Week One: A Nervous Ethnographic Phase

Karim/ July 8, 2018/ Securing The Local Project/ 0 comments

Minggu Pahing, 1 Juli 2018 adalah official fieldwork day untuk studi etnografi sebagai bagian dari disertasi saya di Universiteit van Amsterdam (UvA), Belanda bertajuk Dancing to a Different Drum: Violent and Non-Violent Securitization by Banser and Jamaah Maiyah in Post-Reform Indonesia.

Sebagaimana lazimnya dialami para antropolog yang melakukan studi etnografi, fase in-situ minggu pertama adalah culture shock atau nervous phase terutama dalam hal to expect the unexpected things meskipun yang kali ini saya lakukan adalah fieldwork at home, experiencing ‘different home’ environment as a researcher.

Nervous phase ini semakin kompleks ketika saya kaitkan dengan fakta bahwa dua kelompok yang saya teliti, Banser (Bantuan Ansor Serbaguna) atau yang scholarly known sebagai Nahdlatul Ulama’s Multipurpose Ansor Front adalah kelompok paramiliter multifungsi, multidimensi, dan multirupa milik NU yang ketika saya masih kelas 1 SMA pernah menjadi anggota, bahkan wakil ketuanya di tingkat ranting di desa Wonokromo, Wonosobo.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\UNU Bersama Gus Yahya 4 Juli\P7049763.JPG

Balatas (Banser Lalu Lintas), salah satu divisi Banser DIY yang area tugas khususnya adalah urusan lalu lintas (Foto: Karim, Juli 2018)

Begitupun Jamaah Maiyah. Mereka bukan sebuah kelompok paramiliter yang dibentuk (atau terbentuk) untuk menjaga keamanan, tetapi dimensi aktivismenya mencoba merangkul tafsir dan aplikasi konsep iman-aman-amin di tengah-tengah masyarakat kontemporer dan multikultur Indonesia, yang sudah sejak awal saya menjadi mahasiswa jurusan Antropologi di FIB UGM, saya rajin mengikuti diskusi dan forum-forum ngaji bareng-nya.

Dari judulnya, ini bukan studi tentang koreografi atau ethnic dance, apalagi salsa, ballet, dan sejenisnya. Ini juga bukan studi tentang misi militer untuk resolusi konflik atau menjaga keamanan warga di wilayah perang. Studi ini mencoba menyuguhkan wajah lain dari arus mainstream studi-studi tentang security, dan formula-formula baru tentang social movement dan religious movement.

Sederhananya, studi ini mencoba menyelami, menelusuri, mengeksplorasi, dan menyandingkan dua kelompok non-state actors yang bukan saja berlatar sejarah, karakteristik, orientasi, dan metode pengorganisasian (both internally and externally) yang berbeda, tetapi juga memiliki keunikan “drum beat”-nya sendiri-sendiri dalam meng-aransemen model empiris engagement kemasyarakatan di luar sistem akuntansi, administrasi, dan birokrasi negara, namun dalam satu imaji dan visi yang sama, yaitu “mengupayakan dan menciptakan sebuah tatanan baru Nusantara Indonesia yang aman”.

Aman atau keamanan (security) yang saya maksud barangkali sangat luas konteksnya, namun salah satu benang merah yang menyambungkan keduanya adalah spirituality, idiom menarik dari gabungan kata spirit dan ritual yang secara khas juga dimiliki oleh kedua kelompok tersebut, yaitu spiritual-based security provision.

Mengapa spiritual? Proposisi awal saya adalah karena aktivisme keduanya berangkat dari religious driver atau fondasi motif nilai agama dalam mengimajinasikan tujuan pengorganisasian masyarakat yang mereka ihtiarkan. Spirit hijrah (dari momentum Hijrah Nabi Muhammad) yang salah satu pengertian etimologisnya (Arab: hajara) adalah ‘pindah’ menjadi point of departure yang akan saya elaborasi konteks interpretasi, aktualisasi, maupun eksperimenasinya di masyarakat.

Induk semang Banser adalah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), organisasi kepemudaan milik NU yang nama dan spirit-nya diambil dari kelompok masyarakat di kota Madinah yang menyambut kedatangan rombongan Muhammad dari kota Mekah dalam peristiwa hijrah.

Dalam perjalanannya, kontekstualisasinya sangat luas, mulai dari Resolusi Jihad Fii Sabilillah NU pada 21 Oktober 1945 di Surabaya dalam upaya perjuangan revolusi melawan penjajahan kolonial Belanda, kemudian doktrin NKRI harga mati ala NU sebagai bentuk riayatul ummah (mengasuh masyarakat) yang dicontohkan para ulama dalam bentuk real engagement tidak hanya kepada masyarakat, tetapi kepada bangsa dan negara (yang tercermin dalam lirik mars Ya Lal Wathon), termasuk dalam proses dirumuskannya Pancasila sebagai ideologi negara.

Bahkan, pasca reformasi, contoh paling ekstrim yang nampak dari bentuk khidmat kepada ulama yang mereka yakini dan terjemahkan menjadi aksi nyata tentang bela negara dan bela masyarakat misalanya dari aksi heroik anggota Banser bernama Riyanto yang atas nama toleransi dia rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk melindungi jemaat Gereja Eben Haezer, Mojokerto, Jawa Timur yang sedang merayakan Natal tahun 2000 yang ketika itu diserang dengan bom oleh kelompok teroris.

Dan yang terbaru, misalnya dalam bentuk GP Ansor Declaration on Humanitarian Islam yang dirilis di Jombang pada forum International Gathering of Ulama di bulan Mei 2017 dan dihadiri tokoh-tokoh agama dari negara-negara Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika sebagai bentuk konkret dan sumbangsih kelompok ini bukan hanya kepada bangsa dan negara Indonesia, tetapi kepada dunia.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Banser Siaga Lebaran Jogja Juni 18\20180614_082611.jpg

Salah satu agenda rutin Banser Yogyakarta pada momentum hari raya dengan membuka Posko Mudik Lebaran di salah satu dudut jalan protocol DIY (Foto: Karim, Juni 2018)

Untuk kelompok kedua, Jamaah Maiyah, istilah Maiyah juga mengandung spirit hijrah dan tafsir maupun kontekstualisasinya sendiri. Maiyah (bersama Allah, mem-bersamai) adalah ucapan Muhammad ketika menghibur sahabatnya Abu Bakar di Gua Tsur, “La tahzan innallaha ma’ana”, yang kemudian diterjemahkan secara luas dengan satu simpul sederhana, “membersamai masyarakat”. Sebuah metode, pendekatan, dan strategi unik dan dekonstruktif memahami teks-teks keagamaan dalam bentuk yang sangat kontekstual, adaptif, dan korektif.

Ruang social activism merekapun bukan lagi struktur, lembaga, atau organisasi, tetapi apa yang mereka sebut sebagai organisme yang unsur apa saja ada di dalamnya, sehingga “mereka ada dimana-mana, dan dimana-mana ada mereka”. Mereka menembus batas-batas geografis dari ujung utara benua Eropa di Helsinki dan ujung selatan benua Australia di Melbourne, serta lingkar bujur bumi dari Tokyo hingga California.

Tetapi uniknya, dengan apa yang merek sebut sebagai ‘ngaji bareng’ (istilah Jawa yang sarat makna untuk menjembatani kata aji (peng-aji-an) dan kaji (kaji-an), mereka juga hadir dan menemani komunitas-kemunitas “terbawah” di masyarakat pegunungan, desa-desa, dan pelosok-pelosok negeri. Mereka mencoba menawarkan tata kelola ruang pikir, ruang publik, sekaligus ruang rohani, mulai dari engagement dengan berbagai kelompok masyarakat yang terdampak langsung dari adanya bencana alam dan bencana sosial, bahkan bencana moral, bencana spiritual, atau bencana yang belum didefinisikan.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Photo Jamaah Maiyah\Kenduri Cinta\P7069772.JPG

Kenduri Cinta Jakarta, salah satu dari 5 acara rutin utama Jamaah Maiyah (selain Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbangwetan Surabaya, dan Mocopat Syafaat Yogyakarta) (Foto: Karim, Juli 2018)

Kebetulan, core studi ini juga berada dalam naungan Moving Matters (Momat) research group, yang fokus analisisnya adalah memahami berbagai konteks perpindahan manusia, baik aspek fisiknya (people), barang-barangnya (goods), dinamika dan relasi kuasanya (power), dan tidak kalah penting adalah ideologi dan sudut pandangnya (ideas). Lebih spesifik lagi, riset ini adalah bagian dari Securing the Local project yang mencoba memahami peran aktor-aktor utama di luar negara (non-state actors) yang memiliki inisiatif menjaga keamanan, harmoni, dan kohesi sosial masyarakat lokal.

Dalam konteks ini, momentum hijrah yang kemudian menjadi titik tolak dari diberlakukannya kalender Islam berdasarkan metode perhitungan peredaran bulan (Qomariyah), bukan momentum kelahiran Muhammad, juga menarik untuk dicermati. Moving (perpindahan, pergerakan, dan transformasi) yang matters (bermakna, bersubstansi, berkonteks) dari dua kelompok di atas yang sama-sama mempromosikan security (keamanan dan kepengamanan) akan menjadi field etnografi tersendiri yang layak dikembangkan.

Dalam menjalankan misi tersebut, menarik untuk digali bahwa kedua kelompok ini juga memiliki ritualnya masing-maing yang kalau meminjam istilahnya Randall Collins (2004) Interaction Ritual Chains, keduanya memiliki ritual ingredients (group assembly, barriers to outsides, mutual focus of attention, dan shared mood) yang lengkap serta ritual outcomes (group solidarity, emotional energy in individual, sacred objects or symbols of social relationship, dan standard of morality) yang sangat nyata dan faktual di tengah-tengah masyarakat Indonesia pasca reformasi.

Imajinasi yang mengikat individu-individu di dalam mata rantai nilai keduanya bukan lagi seperti yang digambarkan sebagai imagined communities-nya Benedict Anderson (1983) karena batas-batas negara semakin kabur dan tidak “mengamankan”, tetapi lebih condong mirip fenomena imagined solidarities-nya Asef Bayat (2005) yang meski sering tidak diperhitungkan namun posisi tawar dan potential movement-nya luar biasa.

Nampak sangat berat tema risetnya, dan memang tak satupun orang membantah bahwa mengupayakan kondisi aman adalah tugas berat bagi siapapun yang mau menerjunkan diri di dalamnya. Bagaimana tidak, belum genap satu minggu memulai perkenalan dengan beberapa keypersons, punggawa, atau pegiat kedua kelompok tersebut, termasuk kesempatan langka makan siang bersama Gus Yahya Cholil Staquf yang 4 Juli lalu, bertepatan dengan hari ulang tahun kemerdekaan Amerika Serikat dan hari ulang tahun resepsi pernikahan saya, memberikan ceramah “Blak-blak-annya” tentang kunjungan beliau yang kontroversial ke Yerusalem dan menemui Benyamin Netanyahu itu, plus mendengar keluhan salah satu prajurit Banser dalam acara tersebut yang menanyakan kepada Gus Yahya “kapan kita tempur, bolak balik latihan dan isi gotri terus ga tempur-tempur!”

Sehari kemudian, di tengah mengikuti rangkaian agenda Jamaah Maiyah di forum-forum ngaji bareng yang kebetulan secara beruntun di DIY-Jateng-Jatim, tiba-tiba, duarrrrrr………..teror bom meledak lagi di Pasuruan, Jawa Timur pada kamis pagi, 5 Juli 2018 yang hanya berjarak kurang dari 130 km dari Kediri, tempat hari itu Cak Nun dan Kiaikanjeng berserta Jamaah Maiyah setempat akan pentas bersama Polres Kediri setelah malam sebelumnya manggung di Kabupaten Lamongan.

Rangkaian a nervous ethnographic phase ini hanya perkenalan awal. Aktivisme ke-Banser-an di yogyakarta, mulai dari syawalan pengurus wilayah NU (PWNU) DIY, wawancara awal dengan salah satu komandan Banser, dan forum diskusi intelektual NU bersama Gus Yahya di kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang memberikan gambaran posisi Banser dalam konstelasi kemanan lokal dan global, ternyata memberikan banyak pesan. Banser bukan sekedar pasukan keamanan swadaya berseragam militer (meskipun mayoritas seragam itu adalah bekas seragam militer TNI yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga warna dan aksesorisnya berbeda dengan pasukan TNI dan grup Hansip), tetapi benar-benar kelompok grassroots yang mengusung ke-“serbaguna”-an secara sistematis dan terstruktur membentuk sebuah security culture berlatar sosio-kultural Yogyakarta, dan khas Nusantara Indonesia.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\UNU Bersama Gus Yahya 4 Juli\P7049673.JPG

Seragam khas anggota Banser di Yogyakarta (Photo: Karim, Juli 2018)

Di sisi lain, ngaji bareng maupun forum-forum multipihak dan non-stop Jamaah Maiyah dengan warna dan aroma khas Yogyakarta juga tidak kalah kental nuansa security culture-nya. Mulai dari Gelar Budaya Taman Siswa di Kulonprogo sebagai upaya merevitalisasi konsep inklusivitas padegogis Tamansiswa yang dirintis oleh Ki Hadjar Dewantara yang secara eksplisit didiskusikan bahwa kekuatan militar hendaknya ditempatkan pada proporsi sebagai “pagar luar taman” yang menjaga kedaulatan negera, sementara polisi sebagai penjaga budaya di dalam taman bersama-sama masyarakat lokal.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Photo Jamaah Maiyah\Sinau bareng\Taman Siswa nanggulan Kulonprogo 1 Juli\P7029648.JPG

Suasana Sinau Bareng (berbaurnya Jamaah Maiyah bersama komunitas sekolah Tamansiswa dan warga Nanggulan Kulonprogo (Foto: Karim Juli 2018)

Kemudian esok harinya, topik besar Tamansiswa itu sudah berganti ke topik Pendirian Pusat Kebudayaan Islam Indonesia yang digagas oleh di PP Muhammadiyah, atau yang terakhir bersama keluarga Besar SAR (Search and Rescue) DIY yang ternyata, Cak Nun sebagai “komandan” Jamaah Maiyah juga secara ‘aneh bin ajaib’ adalah ketua Dewan Syuro SAR DIY. Fakta otentik ini langka, karena barangkali hanya satu-satunya di dunia, yaitu di Yogyakarta, yang pasukan SAR-nya memiliki ketua Dewan Syuro.

Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://securethnography.com/2018/07/08/week-one-a-nervous-ethnographic-phase">

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*