Week Three: Dealing with Uncertainty and Insecurity

Karim/ July 22, 2018/ Securing The Local Project/ 0 comments

“Security is a manner of politicization [that] allows us to view in/security as a strong form of un/certainty” (Holbraad and Pederson 2013: 11)[1].

Definisi tentang security di atas awalnya digagas oleh The Copenhagen School of Security Studies, yang kemudian populer melalui buku Security: A New Framework for Analysis karya Barry Buzan, dkk (1998)[2] yang mencoba melihat isu security dengan kacamata yang lebih luas. Bukan sekedar sebagai sebuah isu atau fenomena, tetapi sebagi sebuah proses securitization yang oleh Goldstein (2010: 492)[3] dirangkum sebagai “a process of constructing a collective understanding of something as a particular kind of danger, an existential threat to state, society, and our way of life”.

Genresecurity studies semakin kompleks seiring dengan meningkatnya kompleksitas ancaman keamanan (security threats) yang dihadapi umat manusia di berbagai sudut jagad raya. Dan pandangan bahwa security is a manner of politicization menurut saya bukanlah sesuatu yang berlebihan, meskipun dalam konteks Indonesia, istilah “politisasi” sudah menjadi sangat konotatif bahkan cenderung peyoratif. Padahal, jika kita tengok KBBI, politik adalah kebijaksanaan atau cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah). Atau buka saja Cambridge Dictonary[4], ia bermakna sangat jelas sebagai “wise and showing the ability to make the right decisions”, bahkan lebih singkatnya adalah “wise or practical”, karena salah satu kata terdekatnya adalah polite yang kemudian bertransformasi menjadi policy dan dalam ranah keamanan muncul istilah police.

Faktanya, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, akibat ulah sekelompok orang yang diberi label atau secara serampangan menyebut diri mereka sendiri sebagai politikus atau politisi, yang melalui mekanisme demokrasi mereka kemudian memiliki power, kewenangan menyusun policy sampai mengerahkan pasukan polisi, namun yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat justeru terus meningkatnya uncertainty dan meluasnya keluhan-keluhan insecurity. Bukan sesuatau yang polite, wisely practical atau suasana yang practically wise yang didapatkan oleh warga negara, khususnya mereka yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial.

Minggu ini, merespon situasi keamanan di Yogyakarta, khususnya setelah adanya rangkaian kejadian penangkapan dan penembakan kepada terduga jaringan teroris minggu lalu, Gubernur DIY menghimbau seluruh warganya untuk melakukan pengawasan dalam rangka memutus mata rantai terorisme. Berikut beberapa poin yang diliput dan dijadikan salah satu headline media lokal.

Dari perspektif politik, mengacu pada beberapa definisi terkait di atas, himbauan tersebut sangat menarik untuk dicermati. Jawaban terhadap pertanyaan apakah hal ini sudah wise and showing the ability to make the right decisions tentu akan sangat beragam dan memerlukan berbagai sudut pandang. Yang jelas, fakta empirisnya mengatakan bahwa kondisi insecurity tidak lagi mampu hanya ditangani oleh negara dan aparaturnya, dan identifikasi siapa yang dianggap sebagai penyebab insecurity itu sudah sedemikian tidak jelasnya (pada level uncertainty yang tinggi) sehingga yang paling mudah diinstruksikan adalah “semua pendatang baru” harus diawasi, dan warga harus terjun langsung melakukan pengawasan, bukan lagi hanya sekedar, misalnya, meningkatkan kewaspadaan.

Ini baru satu dari beberapa security threats yang minggu ini masih ramai menjadi bahan diskusi di kampus-kampus, café, stasiun, terminal bis, pos ronda, majlis taklim, angkringan, obrolan ringan di masjid-masjid pasca jumatan, bahkan di rumah ibu mertua saya yang beliau baru tahun lalu purna tugas sebagai guru SD sehingga memiliki banyak waktu luang dan memutuskan untuk berlangganan Kedaulatan Rakyat untuk “sarapan pagi” beliau.

Koran lokal yang masih eksis ini, bahkan di kalangan sesepuh sering terlontar pertanyaan KR-mu opo? (koranmu apa?) dan seluruh media lokal di Yogyakarta minggu ini secara kompak juga memberitakan 2 ancaman insecurity. Satu ancaman datang dari kawanan Klithih yang kembali menebar a particular kind of danger di malam hari di daratan Bantul dan Sleman berturut-turut tanggal 17 dan 18 Juli dengan men-clurit dan menusuk korban tanpa permisi atau setidaknya tantangan untuk berduel secara jantan. Meskipun korban tidak sampai meninggal dunia, ancaman ini menjadi semakin rutin, meresahkan, dan “tidak pandang bulu” yang membuat Ibu mertua saya selalu mewanti-wanti saya jika terpaksa harus pulang malam atau dini hari dengan “ati-ati saiki klithih kumat neh!” (hati-hati sekarang klithih kambuh lagi!). Nampaknya, sebagai orang yang belajar antropologi, saya melihat aksi klithih ini bisa saja menjadi semacam persyaratan “ospek” dan “ritual inisiasi” bagi anggota baru yang akan bergabung dalam kawanan pemuda pecinta pembacokan ini.

Ancaman lain datang dari wilayah pantai selatan DIY, yaitu rangkaian gelombang tinggi yang mencapai 5-6 meter serta diprediksi oleh BMKG akan terus terjadi hingga akhir bulan Juli. Gelombang tinggi ini telah menyebabkan kerusakan terhadap kapal-kapal nelayan, usaha warung makan warga di pinggir-pinggir pantai, dan berbagai fasilitas umum yang menjadi pendukung sumber penghidupan masyarakat setempat, khususnya kerusakan infrastrukur PDAM yang mengancam terganggunya distribusi air bersih, termasuk hilangnya kesempatan menambah pendapatan harian para nelayan subsisten karena mereka tidak berani melaut.

Tiga security threats dari darat, laut dan udara nyata terjadi minggu-minggu ini di Yogyakarta. Mulai dari ancaman kawanan Klithih yang kembali terulang dan intesitasnya meningkat, ancaman gelombang tinggi bagi warga yang tinggal di dekat pantai selatan dan berdampak pada terganggunya pasokan ikan laut bagi warga yang tinggal di kota. Bahkan yang terbaru, ancaman itu juga datang dari udara, dari ruang hampa, dari pikiran atau ideologi yang kemudian dipersempit menjadi “pendatang baru” (terorisme) yang kian akrab di telinga warga Yogyakarta.

Fenomena uncertainty and insecurity ini semakin jamak menjadi persoalan lokal dan global dimana negara (state actors) semakin kebingungan dalam menyusun dan mengimplementasikan policy yang polite dan tidak hanya mengandalkan police sebagai aparat penjaga dan penjamin security bagi warga sipilnya. Maka tidak mengherankan jika pihak-pihak di luar negara (non-state actors) kemudian mengambil peran dan berbagai inisiatif pengamanan dengan rupa ragam bentuknya.

Salah satu yang menarik dari aktualisasi atas dikeluarkannya GP Ansor Declaration on Humanitarian Islam, yang sudah saya singgung di catatan week one, adalah fenomena sholawatan massal, yang salah satu gerakan terbesarnya akhir-akhir ini diinisiasi oleh Habib Syech (bin Abdul Qodir Assegaf). Minggu ini saya berkesempatan menyaksikan dan merasakan sendiri dua kali gelombang lautan puluhan ribu manusia, pria-wanita, tua-muda, besar-kecil, bayi-renta, desa-kota, tidak hanya dari wilayah Yogyakarta tetapi dari berbagai daerah Jaw Timur, Jawa Tengah dan sekitarnya bersholawat bersama di Pleret, Bantul, dan Ngaglik, Sleman dengan kawalan hampir seribu personil Banser di masing-masing lokasi.

Bahkan seorang personil Banser pun mengajak anak balitanya ketika bertugas mengamankan acara Pandanaran Bersholawat 19 Juli 2018, di Sleman, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

Banyak orang menyebut bahwa ini mungkin hanya acara pengajian biasa, pengajian ala Nahdliyin dengan lantunan khas sholawatan-nya. Apalagi ceramah agamanya bahkan terbilang sangat singkat. Namun, seruan Ya lal wathon minal iman, yang merupakan karya ulama kharismatik asal Jombang KH Abdul Wahab Hasbullah (31 Maret 1888-29 Desember 1971) yang beberapa tahun lalu dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan nasionaloleh presiden Joko Widodo, tentang pentingnya hubbul wathon minal iman (mencintai negara/bangsa merupakan bagian dari iman) sangat kontekstual dengan kondisi uncertainty bangsa dan negara Indonesia akhir-akhir ini.

Suasana Pandanaran Bersholawat bersam Habib Syech 19 Juli 2018, di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Sleman, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

NKRI Harga Mati! sebagai doktrin utama yang diteriakkan serentak oleh puluahan ribu orang di sela-sela senandung dan lirik sholawat, dengan kibaran bendera berlogo NU atau Syekhermania Community (sebuah komunitas pecinta sholawat yang sanantiasa berbondong-bondong datang dari berbagai daerah untuk menikmati dentuman keras suara drum dan perkusi khas pengiring irama sholawat Habib Syech yang mereka kagumi sambil hanyut memejamkan mata (bahkan saya melihat banyak dari mereka yang terus meneteskan air mata) namun mulutnya komat kamit dan fasih menirukan seluruh lirik sholawat yang dimodifikasi dengan lirik-lirik lagu bernuansa Islam dengan langgam Jawa yang diserukan dari panggung utama.

Anggota Banser yang hanyut ikut bersholawat “securing their soul” sambil menjaga suasa pengajian (securing jamaah) pada Pandanaran Bersholawat 19 Juli 2018, di Sleman, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

Lampu warna-warni yang sengaja dipasang di ujung gagang bendera, sorotan lampu HP (sesekali seluruh lampu di lokasi acara dipadamkan oleh panitia), dan taburan guntingan kertas kecil-kecil yang sengaja dihambur-hamburkan ke atas menambah “magis”-nya suasana dan membius semua yang hadir. Dan saya jamin, siapapun yang hadir di malam itu, bahkan tanpa background atau embel-embel ber-KTP Islam, apalagi NU, minimal kepalanya akan mengangguk-angguk, atau telapak kakinya digerakkna naik-turun mengikuti irama dari aransemen “sholawat cinta tanah air Indonesia” yang bernuansa high-beat itu.

Di tempat lain, tepatnya di kecamatan Kasihan, Bantul, acara halal-bihalal dan ngaji serupa mengusung ide “NKRI Harga Mati” secara khusus juga diselenggarakan oleh satuan koordinasi rayon (Satkoryon) Banser kecamatan Kasihan dengan mengundang Gus Mufawik (Ahmad Muwafik), seorang kiai muda NU yang juga getol menggelorakan semangat hubbul wathon minal iman dan banyak mengutip dokumen-dokumen sejarah dan antropologis dalam ceramah-ceramahnya. Saking mulianya tugas Banser, ia sampaikan, nanti di akhirat, merekalah yang akan didahulukan untuk masuk surga, bukan karena banyaknya amal kebaikan mereka, tetapi karena sebutan “serbaguna” di pundak mereka yang membuat Tuhan akan menugaskan seluruh anggota Banser untuk masuk terlebih dahulu ke surga, memastikan kondisi keamanan di dalamnya sebelum para kiai masuk, dan setelah semua dianggap aman, mereka dipersilahkan keluar kembali untuk mengamankan surga dari luar pintu surge yang didalamnya sudah dipenuhi para kiai dan habaib.

Keluarga bule asal Utrech, Belanda yang juga ikut hadir karena tertarik dengan irama dan musik “Sholawatan pada acara halal bihalal Satkoryon Banser Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

Meskipun tidak semasif acara bersama Habib Syech di Sleman, sehingga pasukan Banser yang dikerahkan juga tidak lebih dari 50 orang, acara di kasihan ini mengajak saya untuk melihat prosesi pengamanan yang dilakukan oleh pasukan Banser. Mulai dari apel pembuka yang menjelaskan pembagian tugas personil dan tanggung-jawabnya masing-masing, sampai pada mendengarkan cerita personal dari beberapa anggota Banser yang saya temani bertugas jaga sambil tidak henti-hentinya mereka mengepulkan asap rokok ditangan kiri, serta memegang “tongkat senter parkir” di tangan kanan mereka.

Prosesi apel persiapan acara halal bihalal Satkoryon Banser Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

Cerita menarik misalnya tentang hasil Koin NU yang dikawal oleh Banser di Kabupaten Bantul yang telah berhasil membeli 15 mobil ambulan hanya dalam beberapa bulan (yang bagi Muhammadiyah dengan jaringan nasional Rumah sakitnya barangkali tidak perlu sampai mengumpulkan koin warga). Atau cerita lain dari salah satu anggota Banser tentang siapa yang mereka anggap sebagai “musuh” atau “ancaman”, doa atau ijazah atau amalan apa dari kiai mereka sebagai bekal untuk menjaga keamanan warga dimanapun mereka bertugas.

.

Kotak Koin NU, sebuah inisiatif crowd funding dari NU di DIY yang salah satu ujung tombak collecting-nya dilakukan oleh personil Banser Kecamatan Kasihan, Bantul, Yogyakarta (Foto: Karim, Juli 2018)

Inisiatif-inisiatif sejenis saya yakin juga dilakukan oleh banyak kelompok lain di negeri ini, bahkan tidak jarang kita menyaksikan pejabat atau aparat keamanan, baik dari kepolisian maupun dari TNI dikawal atau “diamankan” oleh anggota Banser manakala mereka diundang oleh panitia pengajian tertentu, seperti pemandangan yang saya saksikan di Sleman dan Bantul (a unique phenomenon of non-state security guards guarding those whose main responsibility is guarding them because they are ordered by the state law and are paid by the state to do so, but they do the opposite way).

Jika di Amerika, Eropa, Jepang, bahkan Korea, warganya sangat enggan (dan jika ada pilihan untuk menolak mereka akan dengan senang hati melakukannya) dibayar, diberikan fasilitas atau kemudahan tertentu dalam urusan studi dan pekerjaan, dan bahkan ditanggung biaya hidupnya agar mau memenuhi tugas wajib militer di negara mereka, maka yang terjadi di Indonesia adalah, warganya dengan suka rela tanpa dibayar apalagi difasilitasi hidupnya oleh negara, dan dengan penuh kegembiraan, dengan biaya sendiri, dengan keyakinan yang kuat untuk “membela NKRI mereka” menjadi pasukan paramiliter (termasuk yang terbesar adalah Banser) yang kapan saja dibutuhkan, siap memberikan jiwa raganya untuk mengamankan negara.

Menurut saya, yang mereka lakukan tidak sekedar pengamanan pengajian sebagaimana umum dipahami masyarakat di Indonesia, dan pengajian itu juga bukan sekedar pe-ngaji-an yang merujuk pada tradisi ceramah atau dakwah keagamaan umat Muslim di Indonesia. Ini adalah bentuk nyata dari peng-aji-an (dari bahasa Jawa aji yang berarti nilai atau jati diri). Mengkampanyekan nilai ke-aji-an ke-Indonesia-an yang sudah mulai kabur (uncertain) dan tidak aman (insecure) melalui tafsir-tafsir kontekstual dari doktrin-doktrin keagamaan dengan media dan metode budaya untuk menjawab persoalan-persoalan lokal kemasyarakatan, khususnya kebutuhan akan rasa dan suasana aman.

Dan ini pulalah yang ditawarkan oleh Jamaah Maiyah. Berangkat dari tafsir tentang syarat seseorang dalam ber-Islam yaitu iman sebagai sebuah fungsi kata kerja, bukan kata sifat. Maka siapapun yang mengaku beriman, tugas utama dan fungsi setiap keberadaannya adalah mengamankan dan menciptakan rasa maupun suasana aman di sekitarnya.

Acara maiyahan, sebuah kosakata baru yang mulai populer tidak hanya di kalangan pegiat dan jamaah simpul Maiyah rutin bulanan yang saat ini jumlahnya sudah lebih dari 50 simpul di berbagai daerah di Nusantara, tetapi jutaan jamah virtual atau Youtubers di seluruh penjuru dunia, salah satu “campaign”-nya adalah aplikasi konsep iman di atas. Mocopat Syafaat, forum simpul maiyah bulanan yang diselenggarakan tanggal 17 Juli kemarin di TKIT Alhamdulillah di Kasihan, Bantul bersama Cak Nun dan grup musik Kiaikanjeng, Sabrang, Toto Raharjo, dan Mustofa W. Hasyim juga menyinggung beberapa dimensi penting dari keamanan itu, yaitu dimensi religius, dimensi sosial, dimensi ekonomi, dan dimansi pendidikan atau literasi.

Aksi Mustofa W. Hasyim dengan “Puisi Humor”-nya pada Maiyahan Mocopat Syafaat 17 Juli 2018 di Kompleks TKIT Alhamdulillah di Tamantirto, Kasihan, Bantul (Foto: Karim, Juli 2018).

Nahdlatul Muhammadiyyin, misalnya, sebuah forum majlis ilmu yang dipimpin dua tokoh sekaligus, Pak Mustofa W. Hasyim dari Muhammadiyah dan Kiai Marzuki dari NU, sejak tahun 2011 telah berupaya membantu menjembatani persoalan-persoalan khilafiyah kedua ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut, baik pada ranah religiusitas maupun sosial, di masyarakat akar rumput. Dan dari hasil wawancara saya dengan pak Mustofa beberapa hari yang lalu, beliau mengkonfirmasi dan mengakui bahwa Nahdlatul Muhammadiyyin lahir dari proses bermaiyah, termasuk persentuhannya dengan Cak Nun sejak tahun 70-an yang beliau anggap memiliki “spirit penengah” yang saat ini sudah langka di negeri ini.

Rumah Maiyah di Jl. Barokah, Kadipiro, Kasihan, Bantul yang menjadi pusat diskusi, aktivitas kreatif, manajemen Progress mengelola Kiaikanjeng dan komunitas Maiyah (Foto: Karim, Juli 2018).

TKIT Alhamdulillah, yang halamannya menjadi lokasi maiyahan rutin dan Sekolah Sanggar Anak Alam (Salam) yang dirintis oleh Toto Raharjo di kasihan, Bantul, salah seorang pendiri Komunitas KiaiKanjeng dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta, adalah contoh kecil dari pengejawantahan nilai ber-maiyah pada dimensi didaktis di tingkat lokal. Dan salah satu nilai maiyah yang diterapkan dan sudah banyak dilupakan di kurikulum pendidikan akhir-akhir ini adalah apa yang mereka sebut dengan “laboratorium sekolah kehidupan” dimana seluruh unsur yang mendukung proses belajar harus terlibat secara nyata, tidak hanya guru dan muridnya, tetapi juga orang tua dan lingkungan sekitar yang dibangun berdasarkan kebutuhan kolektif dan nilai-nilai yang disepakati bersama. Maka tidak mengherankan jika mereka menyebut tumbuhan atau tanaman sebagai saudara tua manusia, karena diciptakan terlebih dahulu oleh Tuhan, dan dengan dasar keyakinan ini saja, penebangan pohon secara liar di hutan dan ekosistem pendukungnya yang berarti menganggu saudara tua sendiri seharusnya tidak mungkin, atau setidaknya tidak elok di lakukan .

Kompleks TKIT Alhamdulillah di Tamantirto, Kasihan, Bantul yang menjadi lokasi Maiyahan Mocopat Syafaat tanggal 17 malam setiap bulan sejak tahun 1998 (Foto: Karim, Juli 2018)

Di forum Maiyah, agama dilihat sebagai sebuah metode kebudayaan, sehingga mustahil memahami agama yang berfungsi mengamankan nilai-nilai kemanusiaan hanya dari tafsir akan teks-teks kitab suci yang bersifat ritual dan keibadahan, tanpa memahami strategi yang terus dikembangkan oleh akal manusia dalam mengelola kebudayaannya. Misalnya perintah tentang sholat yang dimaknai sebagai metode Tuhan untuk mengajarkan tata kelola sumber daya air (untuk berwudlu dan memenuhi kebutuhan dasar akan kesehatan), pengembangan teknik sipil dan arsitektur, industri karpet, ubin, dan seni dekorasi (bangunan masjid yang indah dan nyaman untuk beribadah), bahkan ilmu astronomi (tentang arah kiblat, peredaran bumi dan matahari sebagai penentu waktu sholat) dan sebagainya.

Demikian juga soal pengertian dan upaya penumbuhan tingkat literasi, jika yang dipahami hanya soal melek huruf latin, bukan dengan tujuan lebih luas agar masyarakat melek persoalan-persoalan kekinian, sebab musababnya, dan alaternatif-alternatif solusinya, sudah banyak statistik mencatat bahwa meningkatnya jumlah sarjana pertanian, misalnya, tidak sebanding lurus dengan menigkatknya produktivitas pertanian dan solusi-solusi praktis untuk memecahkan masalah turun drastisnya minat generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian. Literasi juga termasuk melek huruf digital dan bahasa-bahasa pemrograman komputer yang harus terus di-upgrade untuk menangkal ancaman serius dari berita-berita dan propaganda hoaks di dunia maya.

Suasana Maiyahan Mocopat Syafaat 17 Juli 2018 di Kompleks TKIT Alhamdulillah di Tamantirto, Kasihan, Bantul (Foto: Karim, Juli 2018)

Yang menarik, dari ribuan Jamaah Maiyah yang selalu hadir, seorang jamaah senior menceritakan pernah dilakukan survey sederhana yang mengungkapkan bahwa dari jumlah tersebut hanya sekitar 5% yang hadir di lokasi tersebut berasal dari kecamatan Kasihan, Bantul. Serombongan pemuda, termasuk anak yang masih duduk di bangku SMA berasal dari Wonosobo dan Kebumen yang saya temui, dan sudah lebih dari setahun mereka rutin hadir di Mocopat Syafaat, termasuk beberapa kenalan yang mengaku berasal dari Purwokerto, Kudus, Jakarta, Semarang, dan Tegal, mereka menemukan kegembiraan, rasa aman, dan nyaman di forum ini. Dan fenomena ini juga terjadi di simpul-simpul Maiyah lain, khususnya di 5 simpul utama Maiyah.

“Ritual kemesraan” di akhir acara Maiyahan Mocopat Syafaat 17 Juli 2018 di Kompleks TKIT Alhamdulillah di Tamantirto, Kasihan, Bantul (Foto: Karim, Juli 2018)

Malam itu grup musik Kiaikanjeng hanya melantunkan tiga lagu karena mereka harus segera berkemas ke acara sinau bareng bersama Cak Nun dan Kiaikanjeng di 4 daerah lain secara beruntun pada malam berikutnya pasca agenda Mocopat Syafaat, yaitu diawali dengan Peringatan Hari Keluarga Nasional bersama BKKBN Jatim di GOR Sidoarjo yang membahas “Keluarga Terencana”, bukan “Keluarga Berencana”. Dari persoalan nasional family planning, malam berikutnya mereka sudah swift ke acara Haul Sesepuh Dusun Petis di Gresik untuk menggali kearifan lokal dan sejarah dusun (bukan desa, apalagi kabupaten dan negara). Malam selanjutnya, mereka kembali ke Surabaya menemani agenda puncak Dies Natalis Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ke 30 yang mengangkat tema “Budaya Inovasi dan Inovasi Budaya”. Dan esok harinya mereka sudah bergegas ke Pati memenuhi undangan keluarga besar santri Mbah Suyuti di Guyangan, Pati bersama Gus Mus.

Dari kacamata manajemen organisasi modern, kelompok ini sulit diidentifikasi. Dari namanya Kiaikanjeng, kiai adalah sebutan untuk sesepuh atau sesuatu yang dituakan pada tradisi masyarakat Jawa, yang kemudian mengalami penyempitan makna menjadi sebutan untuk ulama, pengasuh pondok pesantren, atau guru ngaji yang peran utamanya di masyarakat menjaga nilai-nilai spiritual, meskipun di Keraton Kasunanan Surakarta masih ada penyebutan Kiai Slamet untuk nama seekor kerbau bule yang sering dipakai sebagai salah satu unsur penting dalam prosesi kirab keraton, atau juga nama-nama keris pusaka di Keraton Yogyakarta.

Dalam banyak undagan ngaji bareng di berbagai daerah, istilah yang dipakai adalah CNKK (Cak Nun dan Kiaikanjeng). Jika disebut grup musik, genre-nya apa kurang jelas, tetapi semua genre musik dari lima benua bisa ditaklukannya. Vokalisnya banyak dan entah siapa vokalis utamanya, dan ternyata Cak Nun juga bukan vokalis, bukan pemain musik, juga bukan ketua grup musik ini. Expertise atau area of mastery or qualification juga tidak jelas, tidak hanya pada sosok Cak Nun, tetapi juga pada orang-orang di lingkaran Maiyah, sehingga sering diundang banyak kalangan dari berbagai level dan latar belakang untuk dimintai masukan, bantuan, atau fasilitasi penyelesaian masalah atau konflik, bahkan didatangi berbagai jenis orang atau kelompok dengan beragam persoalan di setiap kesempatan, tanpa menggunakan konsep office hours dan price lists atau list of fees.

Mereka tidak membentuk organisasi, tidak membuka cabang, tidak menyusun struktur kelembagaan, dan tidak menyusun rencana anggaran biaya. Dan Jamaah Maiyah yang datang kapanpun dan dimanapun juga bukan karena undangan dari sekelompok orang yang mengorganisir CNKK. Bahkan mereka tidak menggunakan istilah “Cak Nun Mania” atau sejenisnya, seperti yang dipakai oleh komunitas Syekhermania.

Apakah ketidakjelasan (uncertainty) ini mampu memberikan ruang sangat luas bagi mereka dan Jamaah Maiyah secara umum untuk “menyelinap” dan “menelusup” ke berbagai kelompok, organisasi, komunitas, atau jenis entitas kumpulan manusia apapun dengan metode dekonstruksi dan misi pengamanan dari rusaknya nilai-nilai kemanusiaan dan rapuhnya nilai kesetiaan serta segala bentuk insecurity? Jawaban empiris harus dibuktikan dengan studi etnografis yang mendalam.

Dan pengalaman Maiyah selama 25 tahun (dan juga pengalaman Banser yang sudah terbentuk sejak 69 tahun yang lalu), sejak pertamakali forum Jamaah Maiyah Padhangmbulan dirintis pertamakali oleh Cak Nun dan keluarganya di rumahnya di Jombang tahun 1993, dan hingga saat ini masih bertahan dan terus berkembang, nampaknya memberikan satu argumen yang layak diungkap fakta-faktanya, khusunya tentang aplikasi nilai kesetaiaan. Kesetiaan pada nilai kebangsaan, toleransi, dan keberagaman yang menjadi corak menonjol dari kelompok manusia di bumi Nusantara yang kemudian menyepakati disebut dengan Indonesia, yang saat ini warganya merindukan a manner of politicization that allows them to live in security and certainty.

  1. Holbaard, M. and Pedersen, Morten A. (Eds.). 2013. Times of Security. Ethnographies of Fear, Protest and the Future. London: Routledge.
  2. Buzan, Barry; Ole Wæver, and Jaap de Wilde. 1998. Security: A New Framework for Analysis. Boulder: Lynne Rienner.
  3. Goldstein, Daniel M. 2010. “Toward a Critical Anthropology of Security”. Current Anthropology, Vol. 51 (4): pp. 487-517.
  4. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/politic
Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://securethnography.com/2018/07/22/week-three-dealing-with-uncertainty-and-insecurity">

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*