Week Four: Do Symbols Matter?

Karim/ July 29, 2018/ Securing The Local Project/ 0 comments

Developed by: Karim, Hafid, Frechil 2018; Source of images: caknun.com and each link of Maiyah Circle. Klik nama provinsi untuk menampilkan logo dan informasi simpul maiyah, klik ulang untuk menyembunyikan.

Human cultures use symbols to express specific ideologies and social structures and to represent aspects of their specific culture. Thus, symbols carry meanings that depend upon one’s cultural background; in other words, the meaning of a symbol is not inherent in the symbol itself but is culturally learned. (Womack 2005)[1]

Hanya selang beberapa jam setelah bertolak ke Surabaya untuk mengikuti beberapa agenda besar di Jawa Timur yang menjadi “induk” dari keberadaan Banser dan Jamaah Maiyah, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kabar bahwa anak saya tertahan di sekolah di Jalan Imogiri Timur, Bantul karena terjadi tawuran di jalanan dan bentrokan saling serang antara suporter PSS Sleman dengan suporter PSIM Yogyakarta (dua klub sepakbola lokal yang sama-sama berkompetisi di Grup Timur Liga 2 Indonesia 2018) yang akan berangkat mendukung tim kesayangan mereka masing-masing di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Aksi dua kelompok suporter tim sepakbola ini menjadi sangat mengganggu rasa aman warga ketika beberapa orang yang kebetulan berada di pinggir jalan di jalur konvoi yang mereka lewati diserang secara membabi buta hanya karena mengenakan baju sewarna atau identik dengan seragam tim lawan. Dan puncaknya, seorang penonton (M. Iqbal Setiawan, 17 tahun) yang ternyata tidak tergabung di dalam paguyuban atau organisasi pendukung kedua tim tersebut, bahkan adalah anak dari seorang anggota aparat kepolisian Polsek Pleret, Bantul (Aiptu Suradi) dikabarkan meninggal dunia setelah menderita luka parah akibat kerusuhan di dalam stadion[2].

Gubernur DIY dan seluruh warga Yogyakarta menyayangkan kejadian tersebut dan meminta semua pihak yang bertanggungjwab untuk melakukan evaluasi dan membangun dialog. Uniknya, sebagaimana diliput Kedaulatan Rakyat (28 Juli 2018), Wakil Gubernur DIY mengungkapkan “Adanya keributan antarsuporter tidak akan bisa diselesaikan secara tuntas apabila sepenuhnya diserahkan kepada aparat keamanan, karena menjadi kesulitasn tersendiri bagi aparat untuk bertindak”. Apakah ini mengisyaratkan diperlukannya peran lebih aktif dari non-state security groups? karena dalam kasus ini korbannya justeru anggota keluarga dari official state-security personel.

Kejadian ini semakin menggarisbawahi uncertanty dan insecurity di Yogyakarta. Tiga sumber ancaman keamanan (security threats) dari darat-laut-udara yang minggu lalu saya ceritakan ternyata belum lengkap, karena ada satu lagi sumber yang tidak masuk kategori ketiganya, dan sampai hari ini saya belum berani menyebutnya sebagai fenomena apa. Padahal dua kelompok tersebut jelas-jelas bernaung di bawah simbol perserikatan (PSS: Perserikatan Sepak bola Sleman, dan PSIM: Perserikatan Sepak bola Indonesia Mataram) dan memegang teguh spirit sportivitas sebagai slogan utamanya.

Julukan untuk suporter keduanya juga jauh dari nuansa konflik dan permusuhan. PSS memiliki Slemania (pria) dan Slemanona (wanita) dengan slogan utama “Suporter Edan Tapi Sopan”, sehingga sedan apapun aksi mereka, pasti koridornya masih pada ambang batas kesopanan, tidak sampai menyebabkan pihak lain meregang nyawa. Bahkan yang terbaru, mereka juga memiliki Brigata Curva Sud: Ultras Santun yang Menjadi Anomali di Sepakbola Indonesia[3], generasi baru suporter PSS tanpa komandan yang mencoba mencitrakan diri dengan kreativitas, kebersamaan, dan nilai-nilai artistik untuk menambah spekta hiburan dalam sepak bola.

Untuk PSIM, mereka memiliki Brajamusti (Brayat Jogja Mataram Utama Sejati) yang dimbil dari jimat sakti tokoh pewayangan Gatotkaca, anak dari Bima sang kaatria dan salah satu tokoh utama Pandawa Lima. Tahun 2010, sebagian dari mereka juga memiliki inisiatif membentuk The Maident sebagai wadah para suporter PSIM yang berkomitmen kuat mencitrakan prinsip kebersamaan, atraktif, dan meninggalkan aksi anarkis, bahkan dengan tegas menolak unsur politis di dunia sepakbola.

Pertanyaanya, apakah simbol-simbol kebersamaan dan slogan-slogan sportivitas yang diusung kedua kelompok tersebut tidak berfungsi menjaga kohesi sosial diantara dua kelompok yang sama-sama memiliki kebanggaan sebagai warga Yoyakarta, yang dalam sekejap kesamaan identitas itu terlupakan hanya karena mereka memakai kaos dan membawa bendera dengan warna yang berbeda? Ataukah fenomena “perang saudara” yang terjadi antarsuporter bola tersebut (dan sudah jamak terjadi di berbagai daerah di Indonesia) hanya sebuah refleksi dari perubahan struktur sosial di masyarakat Yogyakarta (dan di Indonesia), yang menyebabkan para generasi mudanya luntur karakter paseduluran-nya, tepo seliro-nya, sopan santun-nya, dan termasuk “Jogja-Gumregah untuk Indonesia”-nya, sebuah slogan yang baru-baru ini diluncurkan oleh Gubernur DIY dalam bentuk buku ‘antologi kebangsaan’ untuk meneguhkan status keistimewaan DIY.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perjalanan saya ke Jawa Timur sedikit memberikan helicopter view tentang fenomena kelangkaan rasa aman di Indonesia akhir-akhir ini, dan mengapa negara dan aparatnya seakan-akan “buntu” dengan solusi komprehansif-sistematis, sehingga aktor-aktor di luar negara semakin aktif mengambil inisiatif untuk mengorganisir diri memperluas peranan mereka di masyarakat. Dan perlu diingat, secara historis, spirit pergerakan nasional sejak NKRI belum berdiri banyak lahir dari Jawa Timur, termasuk Banser dengan afiliasinya ke NU dan Jamaah Maiyah dengan jejaringnnya sendiri, yang keduanya menawarkan “pendekatan pengamanan negara” dengan cara yang berbeda, juga “berinduk” di jawa Timur.

Pertama, Konferwil (konferensi wilayah) NU Jawa Timur ke-17 tahun 2018 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri yang saya hadiri dengan status “peninajau khusus” pada tanggal 28-29 Juli kemarin memberikan gambaran yang sangat gamblang tentang bagaimana bangsa Indonesia sebenarnya memiliki satu dari sekian banyak struktur organisasi kemasyarakatan yang usianya jauh lebih tua dari negara Indonesia, dan struktur organisasinya berjalan mandiri di luar APBN dan APBD dari level tertinggi hingga tingkat grassroot, bahkan cabang dan kriprahnya di kancah internasional atas nama bangsa Indonesia juga tidak sedikit. Namun, selama bertahun-tahun sejak republik Indonesia berdiri, daya tahan dan loyalitas mereka tidak menjadi pertimbangan penting dalam banyak pengambilan kebijakan, pelaksanaan program pembangunan negara, dan penyelesaian berbagai persoalan konflik horizoantal di masyarakat.

Tidak hanya dari sisi usia, prinsip dasar berorganisasi dan metode pengorganisasian masyarakat ala NU yang sangat mengedepankan Sanad atau Isnad (tradisi ilmiah keilmuaan Islam yang merujuk pada silsilah nama-nama perawi (dalam kaidah ilmiah dikenal tradisi references, dan di antropologi dikenal dengan key informans), who are they dan what did they do, sehingga validitas (keshahihan, keabsahan) satu saja pesan kecil keagamaan bisa dipertanggungjawabkan dan dirunut tidak saja sampai pada sumber utamanya kepada Nabi Muhammad tetapi juga dilengkapai dengan pemahaman mendalam tentang konteks socio-cultural dan political-historic-nya (aspek terakhir ini yang tidak semua kelompok Islam me-seriusi-nya).

G:\DCIM\112OLYMP\P7291723.JPG

Prosesi Pemungutan Suara Pemilihan ketua Tanfidiyah pada penghujung Konferwil NU Jatim 2018 (Foto: Karim, 2018)

Isi pidato pembukaan konferwil NU Jatim 2018 oleh ketua PBNU KH. Said Aqil Siroj kemarin adalah penegasan dari tradisi NU yang struktural-organis itu, karena dengan sangat lancar dan di luar kepala beliau menyebutkan satu persatu nama-nama tokoh pendiri NU dan Isnad-nya serta buku-buku atau kitab yang ditulis serta isi pesan utamanya, konteks historis dan sosio-politiknya, sampai pada seluruh struktur di atasnya, serta logika aplikasinya pada struktur NU di lapisan terbawah (misalnya Banser), dengan contoh-contoh konkret yang mengutamakan ijtihad atas dasar toleransi, menghormati dan mempertahankan kearifan-kearifan lokal yang ada sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip dasar yang dipegang sebagai khazanah praktik beragama dan bernegara sudah berlangsung lama.

KH. Said Aqil Siroj juga mencoba membuka kembali memori dan mengingatkan seluruh warga Nahldliyin bahwa tradisi yang dijalankan NU telah membawa organisasi ini menjadi organisasi Islam terbesar di dunia yang bahkan dengan tegas menentang misi mengganti bentuk pemerintahan resmi dengan dalil khilafah di negara yang mereka tempati. Sebagaimana Gusdur pernah sampaikan, tidak satupun organisasi keagamaan di muka bumi ini, selain NU, yang keanggotaanya tidak terputus oleh kematian, dan tahlilan, yasinan, serta istighosah adalah tradisi nyata “menjalin silaturahim” antara yang masih hidup dengan yang sudah mati. Ikrar Ya Lal Wathon, Hubbul Wathon Minal Iman, juga merupakan sebuah keberanian ijtihad menyandingkan kecintaan kepada tanah air dengan keimanan yang bukan dari sumber Alquran dan Hadist sebagai bukti kecintaan dari salah satu pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah kepada bumi pertiwi yang dilestarikan dan terus bergema sejak 1934 hingga kini dimanapun agenda pertemuan resmi NU dilaksanakan.

G:\DCIM\112OLYMP\P7281708.JPG

Para Kiai dan seluruh peserta Konferwil NU Jatim 2018 mengumandangkan lagu Ya Lal Wathon, Hubbul Wathon Minal Iman, dengan conductor oleh anggota Banser (Foto: Karim, 2018).

Maka tidak berlebihan jika tema yang diusung dalam Konferwil itu bertajuk “meneguhkan NU sebagai Payung Bangsa”, sebuah simbol pelindung yang ditawarkan dari Jawa Timur untuk memayungi Indonesia dari hujan deras aksi dan kasus-kasus intoleransi serta terik panasnya aksi radikalisme dan terorisme atas nama agama. Padahal, ini hanyalah konferensi pada struktur NU di tingkat wilayah (provinsi), belum pada level Muktamar Nasional NU yang barangkali akan menawarkan rumah atau benteng pertahanan yang besar untuk Nusantara Indonesia. Jika negara yang seharusnya berfungsi melindungi segenap unsur dan elemen warganya, dan warga NU adalah warga NKRI, maka ide perlindungan dari NU fenomena reversed gaze authority.

Konferwil ini sebenarnya juga mengingatkan kepada para punggawa NKRI bahwa untuk menjaga keamanan warga negaranya, mereka harus tetap memelihara tradisi dan tidak melupakan sanad-nya, siapa para pendirinya, apa dasar pemikiran, cita-cita, dan kesepakatannya, serta struktur kenegaraan dan pendekatan pengorganisasian masyarakat di bumi Nusantara jauh sebelum NKRI berdiri, bahkan sebelum dikacaukan oleh 3 abad lebih era kolonialisasi, ketika keamanan, kemakmuran, dan kejayaan bisa dicapai. Indonesia harus terus belajar pada “kakak-kakak”-nya yang lebih tua, yang banyak sekali, yang isnad-nya sampai para nabi, bukan mendewa-dewakan ilusi demokrasi yang mayoritas warganya tidak mengerti, bahkan banyak yang mengidentikkannya dengan maraknya korupsi dan provokasi.

Karena, jangan-jangan, kelangkaan rasa aman itu terjadi karena para punggawa negara take it for granted semua formula pembangunan dan metode pengorganisasian masyarakat yang ditawarkan oleh para pakar pembangunan asing yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki mereka di bumi Nusantara, para tetangga yang dahulu sempat belajar serius ke Indonesia untuk membangun negara mereka, dan para mantan penjajah yang kini berubah status menjadi development partners hanya karena mereka mampu mencitrakan ilusi kemajuan, indeks keberhasilan, dan skala modernitas yang hanya dipahami kaum urban. Bukankah secara sanad, mbah-mbah kita pernah berhasil memajukan Nusantara tanpa menunggu campur tangan struktur asing apalagi uluran bantuan para tetangga?

Kedua, perjalanan saya ke Jawa Timur juga menemukan satu kata kunci baru tentang strategi penciptaan rasa aman di masyarakat tanpa melalui sebuah struktur-organis sebagaimana yang dipertahankan oleh NU, tetapi melalui optimalisasi fungsi-fungsi penyadaran dan dekonstruksi terhadap pemahaman nilai-nilai dan pakem-pakem sosial di masyarakat yang cenderung menciptakan ketidaknyamanan dan ketidakamanan (insecurity), sehingga perlu adanya pola komunikasi dengan pendekatan kultural, penggalian ide-ide dan cara berpikir kritis, dan pengupayaan solusi berbagai persoalan di masyarakat yang tidak tersentuh atau tidak selesai melalui pendekatan birokratis negara dan aparaturnya.

Secara beruntun, dua dari lima forum Maiyah utama yaitu Padhangmbulan Jombang dan Bangbangwetan Surabaya dilaksanakan tepat sehari sebelum pelaksanaan Konferwil NU Jatim, pada tanggal 26 dan 27 Juli dengan dua tema simbolis-analogis yang diangkat sebenarnya mencoba menegaskan peran fungsional itu. Tema “Sprint dan Marathon” di Padhangmbulan dan “Urip Sesemutan” di Bangbangwetan bukan membahas fakta kedua tema yang tertulis (meskipun di Padhangmbulan jarang sekali tertuliskan tema di panggung), tetapi mencoba menggambarkan kondisi dan persoalan terkini ke-Indonesiaan dan fungsi-fungsi aplikatif yang bisa diperankan oleh para jamaah Maiyah yang secara rutin melingkar ber-Maiyah untuk mencari kunci-kunci terhadap jawaban persoalan tersebut.

G:\DCIM\112OLYMP\P7271714.JPG

Forum Maiyah Bangbangwetan 27 Juli 2018 dengan tema “Urip Sesemutan”, dimana Jamaah Maiyah seperti Semut yang secara rutin berkumpul di berbagai daerah (Foto: Karim, 2018)

Nama Padhangmbulan sendiri diambil dari forum pengajian dan diskusi yang diselenggarakan setiap bulan purnama, sementara Bangbangwetan (abang-abang teko wetan: semburat cahaya merah dari timur) yang mengandung banyak makna, namun salah satunya adalah simbolisasi kebangkitan peradaban Timur atas hegemoni peradaban Barat sejak era Rennaisance yang sudah terbukti hanya mengamankan dari sisi materialism (itupun hanya keamanan semu karena dampaknya adalah kesenjangan material dan sosial yang terus meluas), dan terus menggerus kebutuhan dasar kemanusiaan lain yang bernama spiritualitas dan keadilan sosial yang menjadi puncak dari 5 nilai utama Pancasila (bukan sekedar kesejahteraan sosial).

G:\DCIM\112OLYMP\P7281711.JPG

Padhangmbulan sebagai “induk” forum maiyah Nusantara juga sangat unik. Sebagai “sesepuh”, ia tidak memiliki logo khusus, slogan khusus, atau tema khusus yang dibahas secara intensif oleh para “begawan” dan pegiat Maiyah sebelum hari H, namun di sinilah tema-tema berat persoalan kenegaraan dan kebangsaan banyak digali dan dibahas dengan serius, termasuk perumusan langkah-langkah strategis menjelang kejatuhan rezim Orde Baru dan penanganan berbagai konflik sosial pasca reformasi.

Sebagai ilustrasi yang kontras dengan pemandangan Konferwil yang mayoritas dihadiri oleh “sesepuh” NU se-Jawa Timur, jamaah Maiyah di Jombang dari wilayah Jawa Timur dan sekitarnya mulai berdatangan ke desa Menturo, Sumobito sejak siang hari. Mayoritas dari mereka adalah pemuda belia dengan peci khas “maiyah”-nya yang berlomba menempati shof atau barisan terdepan dan terdekat dengan panggung sederhana “Majelis Masyarakat Maiyah” Padhangmbulan. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menyusul adalah pemudi berusia belasan tahun, ibu-ibu dengan balitanya, dan gelombang terakhir adalah manula renta dari warga sekitar yang memilih duduk leyeh-leyeh sedikit lebih jauh di teras-teras rumah, tetapi lebih leluasa melihat seluruh prosesi Maiyah dari layar LCD yang disediakan di beberapa titik.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Photo Jamaah Maiyah\Padhangmbulan\P6289355.JPG

Pemuda Maiyah Padhangbulan yang sudah hadir sejak hari masih terang di desa Menturo, Jombang (Foto: Karim, 2018).

Panggung Padhangmbulan yang hampir berusia 25 tahun pada Oktober mendatang, awalnya adalah pengajian kecil yang dirintis keluarga Cak Nun di mushola kecil milik keluarga. Saat ini, Padhangmbulan sudah memiliki panggung lebih permanen memanfaatkan kebun di sebelah makam keluarga orang tua Cak Nun, berubin coklat, dan setiap acara Maiyahan dilapisi karpet lusuh berwarna hijau, sementara di depannya dihamparkan terpal tua yang sudah berubah warna dan tikar plastik lusuh yang entah sudah berapa kali digunakan.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Photo Jamaah Maiyah\Padhangmbulan\P6289353.JPG

Panggung sederhana Maiyah Padhangbulan di komplek rumah keluarga Cak Nun di desa Menturo, Jombang (Foto: Karim, 2018).

Sementara forum Maiyah Bangbangwetan Surabaya yang malam itu mengangkat tema khusus tentang “Hidup Sesemutan” adalah upaya simbolis-analogis untuk belajar serius dan menggambarkan betapa semut memiliki kemampan luar biasa dalam manajemen kolektif untuk terus bertahan hidup dalam berbagai cuaca. Bahkan untuk saling mengamankan satu sama lain, semut memiliki tradisi menyimpan makanan untuk dirinya sendiri dan cadangan makanan untuk semut yang lain yang disimpan terpisah di dua ruas perutnya. Cadangan makanan tersebut akan saling diberikan kepada setiap semut lain yang membutuhkan makanan ketika bertemu (yang seolah saling bersalaman) sehingga menjamin kelangsungan hidup bersama.

Sebagai perbandingan, Mocopat Syafaat Yogyakarta juga masih sangat terasa nuansa “kasepuhannya”, meskipun tema-temanya lebih ilmiah dan kultural. Sementara tiga forum maiyah lain di Kenduri Cinta Jakarta, Gambang Syafaat Semarang, dan Bangbangwetan Surabaya sudah lebih terasa suasana keragaman dan simbolisasi-simbolisasi lokalitas masing-masing. Dan saat ini, lebih dari 50 simpul Maiyah telah muncul di berbagai tempat di Nusantara dan luar negeri, yang masing-masing memiliki keunikan simbolis dari kearifan lokal, nilai atau tradisi khas, dan slogan-slogan tersendiri yang ditafsirkan oleh para pegiatnya. Seluruh simpul yang menyebut diri mereka sebagai “organisme” ini menolak bentuk-bentuk pelembagaan dan strukturisasi yang bersifat hierarkis, karena semangatnya adalah “sinau bareng”, meskipun dalam teknis pengorganisasian tetap ada fungsi-fungsi koordinator dan leadership yang menurut mereka muncul secara sangat alami, bukan dengan jalan pewarisan apalagi voting dan pencoblosan.

Salah satu dekonstruksi sederhana yang sudah hampir seperempat abad dilakukan adalah fakta bahwa forum Maiyah dilakukan di malam hari hingga dini hari, bahkan sering sekali sampai menjelang subuh. Ini adalah waktu dimana tradisi hidup modern menempatkannya sebagai unproductive time atau waktu istirahat untuk mempersiapkan energi di pagi dan siang hari. Ini juga bagi sebagain orang dianggap bertentangan dengan ajaran “bekerjalah kamu di siang hari, dan tidurlah kamu di malam hari”. Meskipun jawaban ilmiah yang meyakinkan belum saya temukan, ternyata penjelasan praktisnya adalah bahwa hampir seluruh momentum spiritual keagamaan, kenegaraan, dan sosial-budaya manusia di muka bumi yang menuju pada upaya pencerahan, pembaharuan, dan penemuan terjadi di malam hari.

Dan pelaksanaan forum Maiyah di malam hari itu adalah metode pencarian cahaya dengan terjun ke kegelapan (mencari solusi dengan terjun ke masyarakat yang memiliki persoalan), juga teknik penyeimbangan, bentuk latihan, dan upaya pembiasaan untuk menyamakan frekuensi pencerahan dan pembaharuan yang sulit dilakukan di siang hari ketika semua orang sibuk mencari kebutuhan materi. Maka penggunaan instrumen musik, pengaturan ritme topik diskusi, pengenalan “ritual-ritual” pengendapan pikiran dan hati, dan manajemen komunikasi dua arah adalah bentuk dari training intensif “penyeimbangan diri” bagi setiap individu di dalam jamaah Maiyah. Pelatihan ini bagi jamaah adalah bekal untuk berfungsi lebih produktif dan mengamankan sejak pagi sampe sore hari ketika harus kembali kepada struktur-struktur hierarkis di masyarakat. Fungsi “detoksifikasi” pikiran inilah yang sangat jelas nampak dan tercermin pada berbagai simbol, logo, slogan, dan tema-tema forum simpul Maiyah se-Nusantara.

G:\DCIM\112OLYMP\P7271719.JPG

Drum, salah satu instrumen musik yang penting pada forum-forum Maiyah Bangbangwetan dan di daerah lain sebagai media “pengendapan” dan “Untuk menguak Rahasia, Bangun dari Timur” nilai-nilai Maiyah (Foto: Karim, 2018).

Maka, fenomena insecurity yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini barangkali adalah bentuk nyata dari adanya malstructure dan malfunction tatanan kehidupan bernegara, berpolitik, bersosial-budaya, dan beragama di Indonesia, bahkan di dunia. Kedua mal- itu tercermin dari keserakahan para koruptor, kecurangan pengusaha nakal, kesombongn penguasa lalim, keterlenaan ilmuwan pemburu proyek, dan kelalaian ulama penjual ayat-ayat Tuhan yang seharusnya berfungsi memperluas peran distribusi tetapi justeru terus memperkaya diri memenuhi perutnya sendiri dan perut-perut kelompoknya sendiri yang ruasnya tidak terbatas. Drama besar mal- di layar lebar ini di mata rakyat jelata kemudian direspon dengan berbagai pendekatan dan upaya “netralisasi”, dan mungkin sebagain dari anak muda perlu mengambil inisiatif dengan cara menghujat, membakar, membacok siapa saja yang kebetulan bernasib sial ditemuinya di jalanan, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu pada para supporter bola di Yogyakarta.

Karena jalan keluar dari kondisi ini tidaklah tunggal, ada jalur politik praktis, jalur kebudayaan, dan jalur spiritual, maka analogi dan simbolisasi yang terus memperkuat struktur hierarkis pada porsinya dan fungsi kohesifnya masing-masing yang mengamankan di masyarakat harus terus dikembangkan, melalaui Banser di satu sisi dan melalui Jamaah Maiyah di sisi lain, serta melalui kelompok-kelomok non-state lain yang tidak terhitung jumlahnya.

Dua kelompok ini, dan saya yakini juga untuk kelompok lain, sebanarnya berangkat dari semangat yang sama “Islam rahmatallil’alamin” (Islam yang memberi dan menjamin rasa aman bagi alam semesta), namun dengan tafsir dan pendekatan yang berbeda. Karena sifatnya struktural, Banser sangat tergantung kepada komando “Dawuh Kiai” dan menggunakan simbol tunggal Nahdliyin dalam setiap Ngepam (istilah para anggota banser untuk aktivitas pengamanan yang mereka lakukan) yang mereka emban di tengah-tengah masyarakat. Sementara bagi Jamaah Maiyah yang sifatnya lebih fungsional, Maiyahan (istilah untuk aktivitas ber-maiyah) yang mereka lakukan didasarkan pada pencarian fungsi-fungsi pengamanan (mereka merujuk pada aman jiwa-harta-dan kehormatannya) di dalam komunitasnya masing-masing, sehingga atas dasar kesepakatan bersama kemudian mereka menemukan satu atau beberapa nilai lokal yang menjadi acuan bersama, disimbolkan atau dislogankan pada lebih dari 50 simpul-simpul Maiyah yang sudah ada, didiskusikan, dan diaktualisasikan bersama.

G:\DCIM\112OLYMP\P7281696.JPG

Anggota Banser, termasuk Fatser, yang siap Ngepam, mengamankan rangkaian acara Konferwil NU Jatim 2018 (Foto: Karim, 2018).

“Tradisi Ngepam” dan “tradisi Maiyahan” adalah tradisi baru pengamanan. Apapun struktur dan fungsinya, visi keduanya sama, mengembalikan (bukan mencari atau menciptakan) rasa aman, rasa kejayaan, dan rasa kemasyhuran, dan karena the meaning of a symbol is not inherent in the symbol itself but is culturally learned, maka simbolisasinya proses belajar keduanya juga mengacu pada sanad yang sama, yaitu Nusantara Indonesia (bukan meniru visi demokrasi Barat yang tanpa ruh, atau tradisi kerajaan dan perbudakan di Timur Tengah yang pernah disebut jahiliyah).

  1. Womack, Mari. 2005. Symbols and Meaning: A Concise Introduction. California: AltaMira Press.
  2. http://jogja.tribunnews.com/2018/07/27/iqbal-remaja-korban-bentrokan-setelah-derby-diy-bukan-suporter.
  3. https://www.fourfourtwo.com/id/features/brigata-curva-sud-ultras-santun-yang-menjadi-anomali-di-sepakbola-indonesia
Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://securethnography.com/2018/07/29/week-four-do-symbols-matter">

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*