Week Nine: Beyond Literacy: Engaging Local Actions, Securing Global Concerns

Karim/ September 10, 2018/ Securing The Local Project/ 0 comments

“Around the world, 750 million adults still cannot read and write”, 2/3 of them are women, and many of them are young people.” (Unesco, 2018)

Data ini menjadi pembuka dari video promosi dan kampanye literasi oleh UNESCO pada peringatan International Literacy Day 2018 yang diperingati setiap tanggal 8 September sejak tahun 1966. Literacy and skills development adalah tema resmi yang diangkat tahun ini dengan tujuan to ultimately improve people’s lives and work and contribute to equitable and sustainable societies.

Data yang dirilis oleh UNESCO Institute for Statistics di atas tidak mengejutkan, apalagi jika saya pribadi berkaca dari ibu saya yang masuk dalam angka itu, kampung halaman saya di Wonosobo akrab dengan fakta itu, bahkan jika “BPS-BPS seluruh dunia” memiliki petugas pencacah lebih banyak dan lebih telaten untuk menyisir seluruh pelosok negeri, saya yakin jumlahnya akan jauh lebih banyak dari hanya 750 juta sedunia. Lebih dari itu, dalam kasus Indonesia, ketimpangan tingkat literasi antarwilayah (Barat-Timur, Desa-Kota, Jawa-Luar Jawa) adalah juga PR berat tersendiri yang belum mendapatkan perhatian serius.

Secara agregat, literacy rate Indonesia memang sudah tidak lagi “berwarna gelap” sebagaimana dialami mayoritas penduduk di negara-negara Sub Sahara Afrika. Namun, mengingat jumlah penduduk yang begitu besar, angka emak-emak buta huruf seluruh Indonesia saja barangkali akan melebihi jumlah total penduduk beberapa negara di Afrika. Ini artinya, masih ada satu generasi anak-anak Indonesia yang saat ini dididik oleh Ibu-ibu mereka yang tanpa bisa membaca dan menulis. Dan apakah ini sebuah “bencana” di masa depan? Saya adalah satu dari jutaan anak-anak itu.

Senada dengan tema hari literasi internasional tahun ini, apakah fakta tersebut bisa menjadi salah satu ancaman serius bagi masa depan sebuah bangsa, khususnya skills development seluruh komponen bangsa? Bisa jadi jawabannya, Yes. Namun jika faktanya dielaborasi lebih dalam, misalnya, fakta bahwa negara (state actors) yang dipunggawai oleh kaum “melek” huruf di negeri ini belum mampu benar-benar mangamankan kedaulatan rakyat (kedaulatan sandang, pangan, dan papan rakyatnya saja), karena di banyak kasus, kedaulatan kelompok dan partainya masing-masing lebih diutamakan, sehingga mungkin level ancamannya (dibandingkan dengan ancaman dari banyaknya illiterate mom) akan lebih serius yang kedua ini.

Lalu, apakah mereka yang di luar negara (non-state actors) di negeri ini tinggal diam dan menunggu uluran tangan negara? Dapat dipastikan jawabanya, No. Satu catatan, dua dekade pasca reformasi, dilahirkannya UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, dan dikuatkan dengan adanya UU No. 17/2013 yang belum lama diperbaharui menjadi UU No. 16/2017 tentang Ormas, telah memberikan ruang sangat luas kepada seluruh warga negara untuk berkelompok, berkumpul (dan ini menjadi ciri menonjol orang-orang yang tinggal di Indonesia), dan mengorganisir diri mereka untuk terlibat di dalam proses pemenuhan kebutuhan dasar untuk “menjamin” keamanan dan keselamatan warga negara.

Faktanya, sampai Oktober 2017, Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri mencatat, setidaknya ada 344.039 ormas telah resmi terdaftar dengan berbagai latar belakang dan aktivitas sosial-kemasyarakatannya. Dari angka ini, maka rata-rata setiap ormas sebenarnya bisa melayani sekitar 760 warga negara. Dan angka ini belum termasuk kelompok-kelompok non-ormas (paguyuban, komunitas, asosiasi berdasarkan profesi, latar belakang kultural, keagamaan, politik, dll) yang mungkin jumlahnya lebih banyak lagi. Kekuatan non-state actors yang secara organis, kultural, dan sosiologis berada di tengah-tengah masyarakat inilah yang tidak bisa dipandang remeh, bahkan barangkali menjadi salah satu kunci penjaga harmoni sosial, kerukunan, dan keamanan warga yang disebut ber-bhineka tunggal ika.

Contoh konkret saya temui bahkan melampaui ekspektasi banyak orang tentang peran Banser di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari ormas besar (tentunya kelompok-kelompok lain juga banyak yang melakukan hal serupa). Dari Diklat Tingkat Dasar (DTD) Banser di Kecamatan Dlingo, Bantul yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, saya awalnya agak pesimis untuk meyakini bahwa Banser bisa berperan lebih besar di tengah-tengah masyarakat selain their main intended purpose, yaitu Nge-PAM (menjadi petugas penjaga keamanan dalam berbagai acara pengajian dan hajatan warga).

Apalagi, peserta DTD Banser tersebut (dari yang termuda masih duduk di bangku sekolah berusia 14 tahun sampai yang tertua seorang petani desa berusia 45 tahun) benar-benar warga desa biasa, yang banyak diantara mereka, untuk membeli seragam Banser pasca diklatpun masih kesulitan. Mayoritas dari mereka juga tidak paham sama sekali tentang politik dan perebutan kursi kekuasaan di negeri ini, bahkan dengan lantang salah satu dari mereka berpendapat: “kalau bisa, Banser ngga usah ikut-ikutan politik seperti yang di atas-atas dan di Jakarta sana, kita bantu warga saja di desa semampu kita, tidak hanya urusan keamanan, urusan apa saja asal kita bisa bantu.

Pagelaran lokal bertajuk Aksaranesia yang diselenggarakan dalam rangka Hari Literasi Internasioanl di desa Banjarharjo, Dlingo, Bantul agaknya menjadi titik balik penting bagi saya untuk melihat spektrum “pengamanan Masyarakat” yang lain yang bisa ditawarkan oleh Banser. Pagelaran ini memang bukan acaranya Banser atau GP Ansor secara organisatoris, namun disitulah uniknya. Ada semacam kesadaran kolektif yang memicu semangat dan aksi kolaboratif lokal antara para anggota Banser (yang beberapa diantaranya adalah juga pamong dan sesepuh desa), pemuda, dan warga desa untuk menangkal sebuah ancaman (security threats) baru yang selama ini tidak mereka rasakan, bahkan belum mereka definisikan sebagai ancaman, yaitu dampak negatif dari booming pariwisata di Kawasan hutan Pinus Dlingo dan sekitarnya yang beberapa waktu lalu sempat dikunjungi oleh mantan presiden AS Barack Obama.

Salah satu ancaman yang paling dirasakan adalah banyaknya pembelian tanah oleh “orang berduit” dari luar desa dengan tujuan untuk dikembangkan sebagai lokasi usaha yang mendukung paket-paket wisata alam yang akhir-akhir ini menjamur di kawasan ini. Sekilas, semua tampak akan sangat menguntungkan bagi mereka, termasuk yang oleh para orang berduit tadi sebut dengan “domino effect” ekonomi bagi warga yang sudah pasti mereka tidak paham.

Dilema muncul manakala tanah yang menjadi aset ekonomi satu-satunya bagi mereka ditawar oleh “pemilik modal” dari luar desa dengan harga tinggi bahkan berlipat ganda dari standar harga jual tanah sebelum adanya booming pariwisata. Di satu sisi, mereka tidak memiliki wawasan, skills, dan kemampuan untuk mengembangkan usaha dari aset tanah yang mereka miliki. Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk membiayai sekolah (banyak anak bahkan sudah masuk jenjang perguruan tinggi), untuk renovasi rumah yang kanan-kirinya bolong, atau untuk kebutuhan besar hajatan sunatan atau menikahkan anak-anak mereka, dan banyak lagi kebutuhan yang lain. Sementara, umumnya mereka hanyalah petani, tukang batu atau tukang kayu, pedagang kecil, atau buruh serabutan dengan penghasilan harian atau mingguan yang tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan di atas. Dan perlu digarisbawahi, dari latar belakang keluarga seperti inilah mayoritas anggota Banser berasal.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Aksaranesia Dlingo 8-9 Sept\P9096592.JPG

Akses masuk kawasan Alas Literasi Banjarharjo yang dibuat dengan membuka alas milik anggota Banser (Foto: Karim, September 2018)

Alas Literasi Banjarharjo adalah sebuah simbol perlawanan terhadap ancaman penguasaan aset warga dan fenomena kapitalisme yang merambah ke desa melalui pariwisata. Ia berangkat dari arus yang sama, pariwisata, namun mencoba menjadi salah satu inisiatif kolaboratif lokal baru yang memberikan ruang kepada semua pihak untuk tidak sekedar peduli, tetapi berperan dan mengambil bagian tanggung jawabnya masing-masing.

Mulai dari pemilik tanah yang kebetulan adalah anggota Banser senior di dusun Banjarharjo (itupun harus berkolaborasi dengan pemilik tanah lain yang menjadi area bersama), anggota DPRD dari Dapil setempat yang harus berkontribusi nyata kepada konstituennya, para aktivis pemuda setempat yang dikomandani oleh kang Bayu Endriyanto, termasuk Mas Riza yang menjadi garda depan public relation-nya karena merupakan anggota Lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia (LESBUMI) NU Kabupaten Bantul dan wartawan Harian Merapi, dan juga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantul yang sudah seharusnya menjadi pelaku utama, serta para personil Banser dan warga setempat yang memiliki kesadaran bersama untuk menangkal “ancaman kedaulatan warga desa” dan dampak negatif dari booming wisata alam Dlingo.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Aksaranesia Dlingo 8-9 Sept\P9096599.JPG

Pintu masuk kawasan Alas Literasi Banjarharjo yang menjadi trend desain Kawasan wisata alam Dlingo (Foto: Karim, September 2018)

Aksaranesia yang digelar beberapa hari yang lalu dalam rangka Hari Literasi Internasional 2018 adalah bentuk nyata dari Literacy and skills development yang mencoba membuktikan bahwa warga setempat mampu menggalang dan mengoptimalkan potensi yang mereka miliki sendiri, tidak hanya untuk meningkatkan kepedulian warga setempat, bahkan untuk sebuah isu global yang menjadi tanggung jawab UNESCO untuk menanganinya.

C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2018-09-06 at 17.12.29.jpeg

Leaflet Aksaranesaia yang dibuat khusus oleh Alas Literasi Banjarharjo

Alas Literasi Banjarharjo juga bukan komunitas ecek-ecek yang memahami literasi sekedar sebagai urusan kemampuan membaca dan menulis. Mereka mencoba menggugah para pegiat literasi untuk move on kepada persoalan-persoalan yang lebih faktual dan aktual yang dihadapi masyarakat, sehingga acara yang diusung untuk memperingati hari literasi internasional bukanlah acara baca buku, apalagi belajar baca tulis huruf latin (huruf yang menjadi indikator melek huruf bagi warga seluruh dunia, padahal ada ratusan atau bahkan ribuan jenis huruf dan aksara yang dikembangkan kelompok-kelompok manusia di seluruh penjuru bumi).

Semua acara yang dikemas dalam rangkaian dua hari Aksaranesia kemarin adalah apa yang mereka tafsirkan sebagai upaya untuk membuat warga lebih “melek budaya” dan “melek solusi” dari persoalan nyata yang mereka hadapi. Oleh karena itu, acara hari pertama dimulai dengan Gerakan Bangga Aksara Jawa (Gerbang Rasa) yang mencoba mengajak anak-anak warga dusun setempat untuk mengenal kembali akar budaya, kearifan lokal, dan keluhuran nilai-nilai tradisi mereka melalui bahasa lokal yang sudah mulai luntur dan dilupakan. Kemudian ada Kemah Komunitas yang menggagas anak-anak remaja setempat untuk srawung kembali dan bahu-membahu mempersiapkan panggung kesenian bersama serta seluruh acara pendukung Aksaranesia sambil menikmati indahnya kelap-kelip lampu kota Jogja dan Bantul dari atas bukit Muntuk dan bermalam di dalam tenda yang dimeriahkan dengan api unggun yang menciptakan suasana kegembiraan bersama.

Di hari kedua, anak-anak dan warga setempat diperkenalkan dengan metode Snake Handling dan pengenalan serta edukasi ular dengan menghadirkan Yayasan Sioux Ular Indonesia karena wilayah dusun mereka dikelilingi oleh hutan pinus dan hutan alam yang setiap harinya mereka hidup berdampingan dengan berbagai jenis ular dan reptil lain yang tidak jarang menjadi ancaman bagi warga. Senam Cinta Indonesia bagi anak-anak balita dan usia TK juga menjadi bagian dari upaya komunitas ini untuk membuat anak-anak “melek huruf” akan pentingnya cinta tanah air dan nasionalisme sejak dini. Bagi para ibu-ibu yang memiliki usaha ekonomi di rumah, mereka juga diberikan kesempatan untuk “membuka lapak” di Pasar Kuliner Alas Literasi yang diutamakan untuk mempromosikan tradisi kuliner lokal, khusunya Sate Jowo.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Aksaranesia Dlingo 8-9 Sept\P9096661.JPG

Mereka yang bertugas di luar panggung dan berseragam (Foto: Karim, September 2018)

Puncaknya, acara Aksaranesia menyuguhkan panggung seni warga yang dibuka dengan Rodad Tegong Asinan, kesenian asli Dusun Banjarharjo yang memadukan tradisi Barzanji ala Nahdliyin dengan seni Sholawat yang diiringi rebana, bedug, dan yang paling authentic adalah koreografi kelompok tari kipas (seperti gerakan tari sufi yang dimodifikasi), yang pemain dan penarinya adalah juga para anggota Banser. Bahkan, fotografernya, tukang batunya yang membantu membangun fasilitas perpustakaan dan pendukung lain, tukang bersih-bersihnya, dan pasti petugas keamanannya adalah personil Banser.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Aksaranesia Dlingo 8-9 Sept\P9096723.JPG

Penampilan Rodad Tegong Asinan yang memukau (Foto: Karim, September 2018)

Selain pertunjukan tari cilik dari warga, salah satu yang paling berkesan adalah penampilan dari Puserbumi: Band Para Raweruh, grup musik asal Pleret, Bantul yang seluruh personil dan vokalinya adalah tunanetra namun menurut saya mampu menampilkan “worldclass” performance dengan menyanikan lagu pop, lagu daerah dan Sholawat menggunakan aransemen unik perpaduan isntrumen musik modern dan gamelan.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\BANSER\Aksaranesia Dlingo 8-9 Sept\P9096813.JPG

Performance Puserbumi: Band Para Raweruh yang tidak kalah memukau (Foto: Karim, September 2018)

Genk Cobra, sebuah grup musik lokal Yogyakarta yang mengusung musik alternatif berbahasa Jawa yang lirik-liriknya banyak mengandung kritik sosial dan mengajak warga Jogja untuk nguri-nguri kabudayan Jawi, juga turut mewarnai perhelatan Aksaranesia di malam itu. Mereka mengajak warga untuk lebih “melek huruf” lagi terhadap nilai-nilai luhur warisan generasi sepuh di daerah masing-masing, dan salah satu medianya adalah seni musik, karena musik adalah salah satu bahasa universal kemanusiaan yang mampu menembus sekat identitas ras, agama, politik, dan suku bangsa, dan yang efektif untuk menyatukan anak-anak muda berkreasi secara lebih produktif.

Karena di sudut kelompok yang lain, musik dan media seni inilah yang menjadi ciri khas Jamaah Maiyah dalam forum-forum Maiyahan atau Ngaji Bareng. Muatan diskusi, dialog, ceramah, atau simulasi-simulasi nilai-nilai tertentu dengan permainan tradisional yang diiringi aransemen musik selalu menarik perhatian dan menciptakan suasana kegembiraan, dan dengan suasana tersebut komunikasi yang dibangun menjadi lebih cair, akrab, dan dinamis.

Padahal, pada Sinau Bareng misalnya, lagu-lagu yang dibawakan Kiaikanjeng dan simulasi dolanan anak-anak yang diiringi musik untuk menyampaikan nilai, pesan, tafsir, dan pendapat tertentu berdasarkan tema yang ditentukan oleh panitia acara, dari pertanyaan Jamaah, atau secara spontan muncul di atas panggung atas instruksi Cak Nun, lagunya adalah lagu yang sama dan sudah dibawakan berulang-ulang di tempat lain. Yang kemudian membedakan adalah nuansa dan “suasana kebatinan” jamaah yang secara jeli ditangkap oleh Cak Nun dari panggung, dan kemudian dikembalikan ke mereka dengan kepiawaian manajemen komunikasi publik yang ia miliki.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Jamaah Maiyah\Sinau bareng\Muntilan 7 Sept\P9076129.JPG

Musik dan Kiaikanjeng pada Sinau Bareng di Muntilan, Magelang, 7 September 2018, unsur penting yang menjadi daya tarik aktivisme Jamaah Maiyah untuk merangkul semua kelompok (Foto: Karim, September 2018)

Dan metode komunikasi ala Sinau Bareng ini kemudian menjadi semacam “template” di berbagai Maiyahan simpul-simpul kecil Maiyah di banyak daerah yang diadaptasi berdasarkan kearifan lokal setempat (bahkan sekarang banyak sekali kelompok di luar Jamaah Maiyah yang mengadopsi konsep dan metode Sinau Bareng ini). Yang jelas, media musik dan seni menjadi komponen yang sangat krusial yang menghidupkan Maiyahan, menyatukan, dan memungkinkan orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul dan berdialog bersama.

Pertemuan rutin bulanan melalui forum Maiyahan ini juga memicu adanya pertemuan atau forum-forum lain yang lebih kecil dan tematik yang mengusung fokus gerakan maupun aktivisme komunitas masing-masing. Dari forum Mocopat Syafaat di Yogyakarta misalnya, kemudian muncul Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin (NM), Komunitas Gerakan Anak Bangsa (Gerbang), forum diskusi Martabat, forum diskusi Sewelasan, forum Rebo Legi, dan berbagai aktivitas teater, seni tari, bahkan komunitas senam dan Yoga yang mewarnai peran-peran manajemen “pengamanan masyarakat” di luar sistem birokrasi dan cawe-cawe aparatur negara.

Termasuk yang paling menarik adalah orang-orang Maiyah yang secara mandiri membentuk komunitas kreatif sendiri. Dan salah satu diantara yang menonjol adalah Omah Aksara, sebuah komunitas yang memfokuskan diri pada media penulisan digital khususnya Fiksi Flash dengan karya-karya nyata mereka yang orisinil, sangat menarik, dan membuka spektrum literasi baru, serta dapat dikunjungi di cuap.in.

Mereka bahkan menganggap Maiyah sekedar sebagai sebuah metode yang dapat mereka aplikasikan dalam dunia literasi (bukan sebagai ajaran apalagi aliran yang menempatkan Cak Nun dan para sesepuh Maiyah di singgasana “brahmana”, mursyid, atau sejenisnya), dengan apa yang mereka promosikan: “menawarkan paradigma baru, karena Cuapin hadir untuk semua orang, bukan jasa periklanan; menekankan kualitas, bukan kuantitas; memunculkan ide segar, bukan sponsor konten; demi perspektif baru, bukan clickbait. Jadi, Anda akan menemukan pemikiran segar dan pengalaman unik disini.” Sehingga, dalam karya-karya yang mereka publikasikan di cuap.in, kata Maiyah bahkan tidak akan ditemukan.

Tidak hanya itu, literasi bagi mereka bukanlah literally kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebuah upaya bersama untuk membaca teks alam semesta yang tidak tertulis, mendiskusikan bersama untuk mendapatkan sebanyak mungkin sudut pandang baru, kemudian menuliskannya menjadi sebuah imajinasi baru yang dituangkan dalam narasi fiksi. Mereka sangat percaya bahwa dengan fiksi, mereka akan lebih intim dalam menggali pemahaman-pemahaman baru akan realitas kehidupan. Sebagaimana promosi mereka yang menurut saya adalah salah satu esensi dari securitization (pendekatan pengamanan): “Cuapdotin percaya fiksi membangkitkan kekuatan-kekuatan untuk berimajinasi. Dengan begitu, menjadikan seseorang tidak reaksioner tapi reflektif. Fiksi adalah jalan untuk berfikir, membangun empati, untuk menjadi manusia seutuhnya.”

Tidak ketinggalan, pada momentum Hari Literasi Internasional tanggal 8 September lalu, Omah Aksara juga memiliki inisiatif untuk mengadakan Workshop Penulisan Jurnalistik dan Media Komunitas bersama salah satu maestro puisi Humor yang sering tampil di Mocopat Syafaat, Mustofa W. Hasyim dan penulis-penulis Fiksi Flash andalan mereka.

C:\Users\user\Downloads\WhatsApp Image 2018-09-12 at 15.29.11.jpeg

Leaflet Workshop Penulisan yang digagas Omah Aksara

Dua pendekatan yang berbeda pada momentum peringatan Hari Literasi Internasional 2018 di atas memberikan satu pesan penting bahwa non-state actors memiliki peran penting dan ragam spektrum “pengamanan masyarakat” dari berbagai ancaman (security threats) yang kian beragam. Mereka bergerak beyond their identities yang mencoba mengamankan ruang-ruang publik baru dari ancaman-ancaman baru yang sebelumnya belum disentuh bahkan didefinisikan di dalam kelompok mereka sendiri.

E:\SEKOLAH\S3\Amsterdam\FIELD WORK\Photo\Jamaah Maiyah\Sewelasan kadipiro\8 Sept Workshop Penulisan\P9086372.JPG

Suasana Leaflet Workshop Penulisan Jurnalistik dan Media Komunitas Omah Aksara (Foto: Karim, September 2018)

Mereka tidak mengandalkan santunan negara, sumbangan donator, apalagi proposal sponsor. Mereka tidak “nebeng” kepada nama besar dan kebesaran organisai atau entitas yang mereka bernaung atau belajar di dalamnya. Mereka tidak hanya melingkar bersama mendefinisikan spektrum baru ancaman-ancaman keamanan yang mengancam keberlangsungan kehidupan masyarakat, tetapi mereka berkolaborasi, bekerja bersama-sama mencari alternatif jawaban dan solusi realistis yang dapat dikerjakan secara kolektif. Dan mereka percaya bahwa urusan keamanan bukan hanya soal jaga-menjaga, tetapi juga pikir-memikir, tulis-menulis, bahu-membahu, hibur-menghibur, dan yang terpenting tolong-menolong.

Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://securethnography.com/2018/09/10/week-nine-beyond-literacy-engaging-local-actions-securing-global-concerns">

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*