Week Ten: Different Interpretation, Different Source of Power, Different Securitization Strategy

Karim/ September 17, 2018/ Securing The Local Project/ 0 comments

“It is said that if you know your enemies and know yourself, you will not be imperiled in a hundred battles; if you do not know your enemies but do know yourself, you will win one and lose one; if you do not know your enemies nor yourself, you will be imperiled in every single battle.” (Sun Tzu, The Art of War)

Meskipun kutipan dari Sun Tzu di atas sudah sangat populer dan digunakan oleh berbagai kalangan, namun paradigma umum yang digunakan adalah dikotomi antara self (dirinya, kelompoknya) dan others (orang atau kelompok lain) yang keberadaannya dianggap sebagai musuh (enemies). Padahal, ada paradigma lain yang menarik untuk dikaji dan dikembangkan lebih jauh dalam berbagai spektrum keamanan bermasyarakat tentang definisi self dan others atau enemis yang dua-dunya bersumber dari satu entitas, yaitu dirinya sendiri. Apa bisa demikian? Untuk dapat menjawabnya, saya harus berangkat dari dikotomi umum dulu dan menunjukkan ilustrasi empiris yang menjelaskan keduanya.

Pertama, snowballing method yang saya terapkan dalam proses penentuan informan kunci pada studi etnografis tentang proses pengamanan masyarakat oleh aktor-aktor di luar negara minggu ini membawa saya kepada sosok-sosok yang unik dan autentik. Salah satu yang mewakili Banser adalah Mbah Tejo (pseudoname), seorang veteran sesepuh Banser yang tinggal di ujung timur wilayah Yogyakarta yang terlibat Peristiwa ’65 dan masih memiliki memori kuat tentang konteks historis “perang” di masa itu dan relevansinya dengan paradigma self vs enemies di atas. Berikut sedikit pilihan petikan hasil wawancara saya dengan beliau.

K: “Apa yang membedakan Banser jaman Mbah Tejo dulu dengan Banser sekarang Mbah?
MT: “Nek Banser sekarang kan sudah tertata benar, nek Banser jaman dulu itu gini mas, karena saya termasuk (anggota) Banser tahun 60-an, itu kan Banser untuk persiapan adanya G-30S, itu (disebut) Banser Pembela, itu bahkan saya masuk (dalam kelompok) Banser Tegopati, yaitu komandan Banser yang (dipersiapkan untuk) perang di garis paling depan pembela umat Islam.”
K: “Apakah sudah ada seragam khusus Banser waktu itu Mbah?”
MT: “Ya belum, hanya cukup pakai baju biasa, jadi jaman dulu ya tidak nampak, kalau saya biasanya pakai baju koko dan bawahan celana silat, ya cukup hanya Banser saja, hanya kelompok pembela umat Islam, itupun gabungan dari mana-mana, kalau barengan saya yang dari Jogja ada yang dari Berbah, Sleman, Piyungan, Prambanan, dan wilayah-wilayah lain, barengan saya ada sekitar 16 orang, tapi ya yang lain sudah meninggal semua.”
K: “Proses rekrutmennnya seperti apa Mbah?”
MT: “Ya kita cuma diambil langsung oleh pak Kyai yang telah diwawas dengan mata hati Kyai, karena beliau-beliau memiliki panca indera paling tajam dibandingkan manusia pada umumnya, dan merekalah yang paling tahu bahwa kita dianggap mampu, tidak sembarang orang dibawa kesana. Kalau kyai-kyai sekarang kan beda, banyak kyai-kyai yang sadar atau tidak mau makan barang haram. Banser jaman dulu memang dikenal betul oleh seluruh lapisan masyarakat, karena memang mereka orang-orang terpilih, dipersiapkan benar-benar, sekitar tahun 61-62 mereka diantarkan ke ulama-ulama besar di Jawa Timur, ke Tebu Ireng, Ponorogo, Jombang, Kediri, istilahe diberi ilmu kekebalan, diijazahi, karena para ulama pada saat itu memang sudah mengetahui bahwa Nasakom akan meledak, dan ternyata benar, bahkan kita tahu persis bahwa ulama-ulama ini yang menjadi target utama untuk dihilangkan, pemuda-pemuda Islam juga akan hilang, semua sudah didata oleh kelompok Komunis pada saat itu, sehingga harus diantisipasi.”
K: “Ada senjata khusus yang dibawa oleh anggota Banser saat itu Mbah?
MT: “Nek dulu ya, yang kita pegang itu ya pecut, penjalin pethuk, sama rajah, dan pada waktu itu cukup tenaga dalam yang diandalkan, dan memang ada kewibawaan tersendiri di masyarakat, saya sudah sejak sangat muda ikut bela diri Phasadja Mataram, jangan heran kalau satu anggota Banser bisa mengalahkan 15 orang meskipun waktu itu usia saya baru sekitar 22 atau 23 dan masih bujang, karena saya ingat betul G-30 S meledak itu usia saya 25. Dulu saya ndak mempan ditembak peluru, rasanya cuman mentul-mentul saja di badan saya, dibacok juga ndak mempan. Manusia biasa yang terkena satu pukulan saya bisa langsung mati, dan cara ngetesnya dulu saya diminta memukul kerbau dan memang benar-benar sekali pukul langsung jatuh. Tirakatnya banyak agar bisa kuat dan anti senjata tajam, anti peluru, misalnya puasa 3 malam ngebleng 1 hari, dan puasa ngalong, satu hari satu malam hanya makan satu pisang dan air putih. Ada juga puasa yang caranya tidur ancik-ancik berdiri di atas buah kelapa yang belum dikupas dan diletakkan di pojok rumah selama satu minggu agar bisa memiliki pukulan mematikan dengan doa summum bukmum ‘umyum fahum laa yarji’un, robbana amfus tiga kali ngampet ambegan, tapi jangan sekali-sekali dipakai untuk sembarangan. Yang jelas, kekuatan utama adalah ilmu tauhid, dan saat itu teladan yang bisa dicontoh banyak, selain para kyai, kharisma ratu ke-9 Kraton Jogja luar biasa, ilmu tauhid beliau sangat kuat seperti Sultan Agung. Penanfsiran para ulama dulu dengan ulama sekarang sudah beda.

Ilustrasi tiga senjata utama Banser era 60-an, pecut, penjalin pethuk, dan rajah. (Sources: http://rotansakti.blogspot.com/2015/01/rotan-ketemu-ruas-penjalin-pethuk.html; http://azimatsakti.com/rajah-azimat-terawangan-dan-kekebalan-ghaib/)

K: “Jadi, tugas utama Banser saat itu sebenarnya apa Mbah?”
MT: “Ya hanya pengamanan, mengamankan masyarakat dari ancaman pembunuhan atau penculikan yang dilakukan oleh anggota PKI, dan (sebagai Banser) kita sebenarnya ditugaskan untuk mengambil orang-orang PKI pada waktu itu, tapi saya tidak mau karena yang diambil itu yang teman-teman kita juga, kita kenal mereka semua, saya tetap ndak rela mereka yang tidak tahu apa-apa diambil, kan Koramil yang punya wewenang untuk itu. Banser jaman dulu yang saya alami benar-benar untuk perang menangkal ancaman PKI, bukan untuk gaya-gayaan.”
K: “Pasca kasus G-30S, apa Mbah masih aktif sebagai Banser?
MT: “Wah setalah kondisi aman ya nggak mas, semua senjata juga dikembalikan ke pak Kyai. Saya kemudian menikah dan sibuk mengurus keluarga, tapi banyak yang saya lakukan setelah itu, saya pernah mewakili Jogja sebagai atlet pencak silat pada PON di Surabaya. Kalau saya mau, saya seharusnya sudah jadi tantara sekarang, karena saya juga dipercaya selama 2 tahun melatih bela diri untuk AKABRI di Magelang, kebetulan komandan AKABRI waktu itu sama-sama dari Phasadja juga.
K: “Apakah Mbah Tejo juga mengajarkan ilmu dan kekuatan tenaga dalam yang Mbah miliki ke anak -cucu?
MT: “Wah, ndak mau saya mas, soalnya gini mas, orang itu kalau punya ilmu itu, kalau tidak kuat mengandalikan hawa nafsu, itu kan nanti akan memakan dirinya sendiri, apalagi sekarang kan jamannya berbeda, urusan nabok saja jadi urusan polisi. Orang yang punya ilmu itu tidak boleh arogan, harus sedikit bicara, tidak menawar-nawarkan segala sesuatu, kecuali terdesak untuk bertindak dalam kondisi kepepet. Sudah diwanti-wanti oleh Romo Kyai sejak awal bahwa ini berbahaya, nek ora percoyo jajalen dewe. Jadi ya tidak ada yang berani sembarangan, bahkan saya bisa memukul sekali ‘deg’ langsung jatuh, dan kalau saya biarkan orang itu akan segera mati, trus kalau saya pukul lagi sebelum dia mati (sebagai semacam pukulan panawar), maka dia bisa bangun lagi.”

Dialog lebih panjangnya lebih menarik dan membutuhkan waktu serta energi lebih banyak untuk dituangkan di sini. Yang jelas, Peristiwa ‘65 menjadi titik tolak penting untuk dapat memahami mengapa sebuah kelompok mengorganisir diri untuk mengamankan keberadaannya dari ancaman kelompok lain. Meskipun saat ini nuansa dan atmosfer sosial-politknya berbeda, entitas atau kelompok yang didefinisikan sebagai “musuh” oleh Banser masih sama, yaitu entitas atau kelompok lain yang mengancam eksistensi ulama dan warisannya, karena NKRI, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika sudah dianggap sebagai warisan perjuangan dan ijtihad para kyai dan ulama.

Jika kemudian, kualitas dan fokus penggalangan kekuatan Banser bergeser dari kharisma kyai sepuh yang memilih orang-orang tertentu dengan standar yang hanya kyai yang dianggap mengetahui dengn pasti ke proses rekrutmen yang bersifat struktural-organisatoris dan mengedepankan kuantitas, sehingga jumlah total personil Banser saat ini sudah berlipat ganda dari jumlah total seluruh personil TNI dan Polri, hal ini juga perlu dikaji sebagai sebuah upaya penafsiran baru akan self dan others (enemies) yang kemudian semakin kompleks, tidak jelas, dan multipurposes, sebagaimana filosofi nama Banser itu sendiri yang dibentuk agar berfungsi dan berperan “serbaguna”.

Jika klaim dan semboyan “NKRI Harga Mati” yang akhir-akhir ini semakin digelorakan mendapatkan reaksi beragam dari berbagai kalangan dan kelompok non-state actors yang lain, maka tiga poin “seni berperang” yang dikemukanan Sun Tzu di atas perlu dicermati dan direnungkan kembali karena definisi enemies di satu pihak akan memunculkan pendefinisian serupa pada pihak lain. Dan “perang definisi”, meskipun didasarkan pada sebuah teks agama yang mengandung doktrin tertentu, senantiasa memunculkan perang-perang dalam bentuk dan spektrum yang lain. Apalagi jika komunikasi yang dibangun bersifat asimetris dan diboncengi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan politis dan orientasi bisnis-ekonomis. Yang pasti, klausul pertama Sun Tzu di atas mensyaratkan adanya pengetahuan yang memadai dan komprehensif tentang self dan enemies mencapai kemerdekaan sejati.

Pada dimensi yang lain, Jamaah Maiyah memiliki definisi self dan enemies yang berbeda dengan kelompok lain. Ia tidak mendefinisikan diri mereka sebagai ormas (jika mengacu pada peraturan hukum yang berlaku di Indonesia), ia tidak pula bisa golongkan sebagai sebuah sekte keagamaan, majelis tarekat, atau aliran kepercayaan karena aktivitas-aktivitasnya jelas beyond itu semua. Sehingga, wajar ketika mereka menyebut diri mereka sebagai “organisme”, bukan organisasi, karena bagi mereka identitas hanya akan merusak keutuhan organisme itu dan menyinggung kelompok lain yang sudah menggunakan label organisasi. Bahkan Kiaikanjeng, grup musik yang menjadi kelompok sentral yang mengiringi aktivisme Jamaah Maiyah sejak awal, yang di lingkar-lingkar kecil kelompok Maiyah di berbagai daerah kemudian menggunakan pendekatan serupa, juga luput dari kategorisasi grup band, genre, aliran musik, dan berbagai atribut lain.

Mereka juga tidak mendefinisikan enemies di luar mereka. “Musuh” bagi mereka bukan sebuah entitas dan kelompok yang menentang mereka atau mengancam keberadaan mereka. Identifikasi “musuh” dan ancaman keamanan (security threats) bagi mereka adalah situasi dan respons terhadap situasi tersebut. Dan ber-maiyah serta konsep sinau bareng yang mereka kembangkan adalah upaya yang mereka sebut dengan “mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar”.
Wawancara yang saya lakukan dengan Mbah Cipto (pesudoname), veteran komunitas Malioboro, sesepuh Maiyah yang merupakan teman dekat Cak Nun sekaligus aktivis sastra di komunitas seniman dan sastrawan Malioboro tahun 70-an juga tidak sebagaimana wawancara dengan informan-informan yang lain.

Alih-alih mengajukan pertanyaan untuk menggali informasi, beliau malah lebih banyak bertanya kepada saya mendekonstruksi banyak pemahaman tentang hal-hal yang selama ini saya anggap ketahui, termasuk dalam konteks studi etnografi yang sedang saya lakukan. Wawancara yang berlangsung sejak ba’da Isya hingga dini hari itu bahkan membuat saya terpaksa menutup rapat-rapat daftar pertanyaan yang senagaja saya siapkan, karena setiap satu pertanyaan yang saya ajukan, beliau akan menjawabnya dengan dua atau tiga pertanyaan dari pertanyaan tadi.

Karena dalam situasi itu saya menjadi tidak paham self saya, apalagi “enemies” saya, sehingga klausul ketiga Sun Tzu berlaku, yang saya lakukan kemudian adalah memposisikan diri sebagai “cucu” beliau dan memberi ruang seluas mungkin kepada beliau untuk memberikan nasihat kepada cucunya yang gagap belajar. Berikut ini adalah sebagian kecil dari petuah Mbah Cipto yang mengajak saya untuk belajar kembali tentang self and others.

Akar keterpecahan pada masyarakat Indonesia memang ekstrim, kalau saya bilang ini adalah bakat masyarakat Indonesia untuk berbeda pendapat, namun tidak sampai bubrah, hanya jalan sendiri-sendiri.”

Kita kan dikenal dengan bangsa plural, bangsa majemuk dengan ratusan bahasa yang digunakan, saya membuat buku kecil tentang bahasa misalnya, sampai tahun 2018, yang dimuliakan sebagai bahasa hanya dua, bahasa nasional dan bahasa daerah, padahal sebenarnya ada satu bahasa penting sing ora diurus, dan itu ada di masyarakat dan tidak dianggap sebagai bahasa, yaitu bahasa keagamaan, assalamualaikum, syalom, namo budaya, itu kan ngga diurus. Ini kan menunjukkan adanya ruang-ruang kosong yang secara struktural dan sistematis sengaja ditinggalkan dan berakibat pada kebiasaan-kebiasaan memperpesar perbedaan, bukan mencari sebanyak mungkin persamaan-persamaan.”

Bedanya dengan orang Barat, mereka itu sibuk menciptakan teori dan metodologi atau pendekatan-pendekatan untuk mencari jawaban tertentu, sementara kita tidak butuh teori, yang kita andalkan adalah kedekatan, bukan pendekatan, makanya ada konsep ngelmu iku kelakone kanthi laku”.
“Maiyah itu dimulai dari Kaiakanjeng, dan Kiakanjeng itu dimulai darimana, embrionya dimulai 1991, namun sebelumnya memang ada jalan panjang dari proses berteater, sastra, karena sejak awal memang beliau (Cak Nun) sudah bergelut dengan tulisan, terutama esai dan puisi. Karena berangkatnya dari sastra, semua bermula dari kata, ora ono nada, lukisan, gambar, semua kitab suci adalah kata, itulah yang menjadi awal. Meskipun, kata itu sendiri, jika dilihat dari prosesnya, kata itu proses awalnya seperti orang bertani, petani akan senantiasa lebih menghargai beras daripada prosesnya mengapa ia menjadi petani. Tukang sampah, ia akan lebih menghargai peristiwa dia membuang sampah daripada pertanyaan mengapa mau menjadi tukang sampah. Nah, di sini kan soal pikiran-pikiran, dan karena sejak awal Cak Nun memiliki landasan keagamaan yang kuat sejak kecil (diantara teman-teman di Malioboro), maka ia memiliki perpaduan antara bakat dan yang di dalam ilmu pengetahuan disebut pembelajaran sejak dini, walaupun saya kurang setuju dengan istilah sejak dini, mbok ya disebut saja tradisi, berari ia kan sudah ada tradisi panjang dan bakat pikiran-pikirannya sendiri sebagai penemu. Makanya yang namanya sastra itu bukan kesenian, itu kata, dan kata itu kan beras, belum diolah, butuh puisi, teater sebagai bumbu-bumbu.”

Tradisi menulis itu dimulai dari tradisi berpikir, dan semua yang ditulis diangkat dari realitas-realitas yang ditemui. Perintah Iqro!, bacalah!, kan bacalah peristiwa-peristiwa kuwi. Salah satu contoh, misalkan: semua laki-laki, muda, dewasa, sehat, waras, kalau melihat aurat perempuan yang sedikit saja terbuka, kira-kira memperhatikan atau tidak? Lalu, kalau perempuan itu ibunya, secantik apapun! Apakah anda akn melihat dengan cara dan rasa yang sama? Kenapa? Mengapa? Nah, itulah puisi, di situ ada kerumitan, di situ ada keindahan, ia tidak hanya kata-kata. Contoh lain, duit 10 ribu di kantong laki-laki kan tidak berarti banyak, wis gak seni blas, tapi di tangan perempuan? isih iso nggo tuku beras, nggo tuku macem-macem.”

“Pasca Peritiwa 65, bahkan sejak beberapa tahun sebelumnya, kondisi rakyat saat itu memang susah sekali. Jangankan buku, makan saja susahnya minta ampun. Karena ga duwe buku, mempelajari tradisi filsafat eksistensialisme itu kan dari realitas, nek moco buku mung nyocokke. Nah, tradisi Malioboro ki yo ngono kuwi. Kita itu menemukan dulu realitas kehidupan, baru kemudian mencoba menerjemahkannya dengan teori-teori kuwi mau, bukan moco teorine sik, ora! wegah! moco kok pendapat wong liyo sik. Moco buku iyo, tapi ngko sik, opo sing diwoco. Rosulullah barang kan ra moco buku. Pas beliau diperintah untuk membaca trus gemetar, itu kan adegan puitis. Makanya, sampai hari ini, njenengan matke, Cak Nun pernah mengutip tulisan siapa? Itulah salah satu akarnya, nggoleki kasunyatane sik.”

Kaitannya dengan Maiyah, orang-orang datang kan untuk menikmati, dan Cak Nun menjadikan event ini dari perpaduan banyak sekali dimensi yang dibangun dari bakat dan tradisi panjang. Namun dari sisi fungsi sosial, memperbaiki tatanan sosial, saya kok masih kurang percaya karena Rosulullah dengan bakat dan tradisi kuat itu tidak mampu mengislamkan orang sedunia, padahal Islam kan untuk seluruh alam. Nah jawaban dia (Cak Nun) sangat menarik bagi saya, dan inilah Emha Ainun Najib, awake dewe ki Islam, anake awake dewe Islam, putune awake dewe Islam, buyute Islam, pada suatu saat dunia Islam, itu logika dia. Kemudian saya bertanya, dengan datangnya Islam ke Nusantara, apakah tradisi masyarakat kita yang agraris harus jadi hilang karena Islam? Tidak kan? Karena kasunyatane kita bukan orang Arab yang dikarunia bakat dan dipaksa menjalani tradisi seperti orang-orang di Arab.”

Dialektika ki piye? Puitis ki sing kepiye tho? Bagi kami waktu itu, kasunyatan itu adalah puitis. Saya sendiri, untuk memahami nilai nominal dan nilai intrinsik uang dalam ilmu eknomi, saya baru paham dan disadarkan oleh seorang pemanjat kelapa di Beji. Katanya jatah tiap hari ia harus menek klopo 35 pohon, pas istirahat jam 11 awan tak ajak ngobrol, tak ke’i rokok." Trus dia menjawab: “wah kleresan, pas mboten gadhah rokok je pak”. Lalu saya tanya: “mboten gadah rokok nopo mboten gadah duit?” Dia menjawab: “mboten gadhah rokok tur mobten gadah duit.” Tak tanya lagi: “buktine nopo nek mboten gadah duit?

"Njuk deknen ngetokke dompet, ternyata di dompet itu isinya layang gadai dan uang 100 rupiah. Gara-gara peristiwa itu saya bisa menjelaskan nilai nominal karo nilai intrinsik. Arto satus rupiah niku kan mboten saged ngge tumbas nopo-nopo tho? Ning kan tetep tasih gadhah arto? Betapa sederhananya penjelasan itu. Nilai nominal 100 itu kan nilai tukar, dan nilai isntrinsiknya kan deknen isih nduwe duit 100 rupiah. Itulah bedanya fakir dan miskin, nduwe duit 100 rupaih ki ora miskin, wong isih nduwe kok, kejobo nek wis ra nduwe. Nah, Cak Nun itu antara lain mengajak, kuwi ajenono, wong kowe isih nduwe duit, ngajeni sesuatu sampai ngono kuwi. Maiyah ki ora ijen, isih nduwe sedulur sing iso nggo sambatan.”

Peristiwa PKI 65 ki malah alhamdulillah ono, umpamane ora ono peristiwa kuwi yo mungkin ora ono perkoro kuwi, kita waktu itu bener-bener wegah ning ngomah, ora ono opo-opo tenan nang ngomah, njuk metu, nggolek konco, ngumpul nang Malioboro.”

Di semua rumpun bambu, semuanya melengkung, bahkan ada yang sampe merusak genteng rumah, kecuali yang terhimpit di tengah-tengah. Itulah fakta sosial, semua orang melengkung sak karepe dewe kecuali orang-orang yang kepepet di tengah-tengah. Pembiasaan-pembiasaan berpikir semacam itu kan menjadi penting untuk memahami situasi kepepet, terpaksa. Itu kan contoh keindahan. Kita hanyalah batang-batang bambu yang tumbuh dalam satu rumpun, tapi dalam waktu yang berbeda. Kesulitan orang memahami Cak Nun itu karena Cak Nun itu sastra, sementra banyak orang tidak paham sastra, kitab suci kan isinya sastra semua, alam semesta kan sangat sastrawi.”

Begini dialektika geguyon di Malioboro waktu itu. Rumah anda di kampung menghadap kemana?
Menghadap ke Barat.” Jawab saya”
Mengapa?” lanjutnya.
“Karena menghadap matahari teggelam dan membelakangi matahari terbit”. Jawab saya.
Coba perhatikan lagi, saya tanya soal rumah, kok mlayu tekan matahari, perhatikan rumah itu dong! Itu yang kita tolak sejak lama di Malioboro. Diskursus, dan sampai hari ni orang lebih pinter ngomong soal diskursus daripada realitas. Perhatikan lagi rumah itu!” desaknya.
Bagian muka rumah ada di sisi Barat.” Jawab saya.
Hampir, coba perhatikan lagi!" Tambahnya.
Pintunya menghadap ke Barat.” Jawab saya lagi.
Nah, mudeng saiki? Itu namanya teori konstruksi, jangan sekali-kali menjawab dengan matahari, masalah intine ki opo? Iki urusan rumah dan palig tidak bagian-bagianya, bukan urusan galaksi, dan ngene iki dolanane bocah-bocah Malioboro kwit mbiyen.” Imbuhnya.

Lalu yang kedua, masjid kita menghadap kemana?” Tanyanya.
Ke Barat”. Jawab saya.
Mengapa?” Lanjutnya.
Karena arah kiblat kita di Indonesia ke Barat.” Sahut saya.
Sik tho, nanti dulu. Masjid ki opo, wujude opo, bangunan apa? Njenengan ki gak kritis tapi terbiasa anut grubyuk. Masjid itu kan bangunan rumah yang difungsikan menjadi tempat sujud, nek fungsi masjid iku diganti dadi asrama jenenge dudu masjid meneh. Tempat sholat umat Islam itu di masjid yang posisi sholatnya menghadap kiblat yang notabene menghadap ke Barat atau Barat laut. Ini berdasarkan teori fungsi, bukan ngomong konstruksi lagi.” Jelasnya.

“Yang ketiga, di stasiun lempuyangan kan relnya terbentang dari arah Timur ke Barat atau sebaliknya, ada sebuah lokomotif tanpa gerbong, tanpa masinis, dan berhenti tepat di tengah-tengah, anda ke stasiun bersama pacar atau istri anda yang kemudian ia bertanya dengan pertanyaan malaikat: Mas, lokomotif itu menghadap kemana?” Tanyanya.
Wah lokomotif punya dua muka je, berarti menghadap ke Barat dan ke Timur.” Jawab saya.
Jangan terburu-buru, coba perhatikan baik-baik. Dua pertanyaan di atas bisa dijawab dengan kecerdasan, memang ada banyak realitas kehidupan bisa dijawab dengan kecerdasan, tapi banyak hal yang lain yang tidak bisa, dan ini contohnya. Untuk menjawab pertanyaan ini diperukan petunjuk, kalau dalam realitas sosial diperlukan guru. Anggap saja salah satu petunjuknya adalah kepala stasiun, dan anda butuh informasi dari dia, pertanyaan seperti apa yang akan anda ajukan ke dia, yang jelas bukan pertanyaan yang sama kalau anda tidak ingin dianggap gila.” Jelasnya.
Pak, lokomitif itu akan diberangkatkan kemana?” Jawab saya.
Nah, sekarang kroso bedanya? Kalau ia menjawab ke statsiun Tugu, maka kita akan segera mendapatkan jawaban bahwa lokomotif itu menghadap ke Barat.” Imbuhnya.

“Yang ke empat. Ada bungkus korek api bergambar beruang saya letakkan horizontal dan yang ujung pentolnya searah dengan posisi kepala gambar beruang tersebut (posisi kepala beruang pada gambar tersebut miring, tidak tegak lurus). Pertanyaannya, materi ini menghadap kemana?” Tanyanya sambil meletakkan korek api tersebut dengan salah satu sisi yang bergambar beruang menghadap ke saya dengan posisi kepala di sebelah timur.
Ke arah Timur.” Saya menjawab.
Apa indikatornya? Perhatikan lagi, apa yang anda gunakan untuk menjawab.” Dia bertanya lagi,
Gambarnya!” Jawab saya.
Anda kalau beli rokok merk tertentu, apa yang anda perhatikan? Apa hubungan antra korek api dengan beruang?" Tanyanya lebih lanjut.
Aha..simbol!” Jawab saya.
Nah, ngerti sekarang? Menghadap kemana juga bisa ditentukan berdasarkan simbolnya. Bungkus Rokok Gudang Garam ada gambar apa? Apa hubungannya rokok dengan Gudang Garam, dengan gambar yang tertera di bungkus rokok tersebut? Apakah ketika anda membeli rokok tersebut anda akan bilang: saya ingin membeli rokok merk Gudang Garam yang bergambar deretan rumah dan rel kereta dan bertuliskan 16 Filter? Kira-kira si penjual rokok akan menjawab apa? Sehat mas? Padahal anda cukup bilang: Gudang Garam 16 mas, dan mengulurkan uang ke si penjual rokok.

Yang kelima. Ini menghadap kemana?” Seraya mengambil selembar kertas HVS kosong yang tiba-tiba diletakkannya di atas meja.
Menghadap ke atas, jawab saya.” Boleh, atas-bawah, utara-selatan, timur-barat, semua benar. Tapi, ingat anda harus bertanggung jawab penuh dengan jawaban dan landasan apa yang anda gunakan untuk mencapai jawaban itu. Itu teori tabula rasa, dan itulah puncaknya. Ojo mung ngawur, ojo anut grubyuk, dasarmu menjawab itu apa? ukurannya apa? Gadis itu cantik, apa ukurannya harus jelas?" Jelasnya.

Dari penjelasan Mbah Cipto, saya kemudian ngeh ketika forum ngaji bareng akhir-akhir ini misalnya, Cak Nun dan beberapa pegiat Jamaah Maiyah sering sekali mengilustrasikan bagaimana posisi dukung-mendukung capres-cawapres di mata mereka. Referensi yang mereka gunakan, misalnya, peristiwa Fatkhu Mekkah (Pembebasan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah) yang terjadi pada tahun 630 Masehi, yang beberapa tahun sebelumnya diawali dengan rangkaian perang luar biasa yang memakan banyak korban nyawa. Cak Nun biasanya bertanya kepada jamaah: “kira-kira menurut anda, peristiwa Fathu Mekkah, jika dibandingkan dengan peristiwa pemilu di Indonesia lebih penting mana?" Umumnya jamaah kan menjawab: "Lebih penting Fathu Mekkah". Dan dilanjutkan: "Ingatkah anda bahwa peristiwa itu dan rentetan perang sebelumnya hanyalah disebut sebagai jihadul asghor (jihad kecil) oleh Rosulullah, sementara jihadul akbar (jihad besar) adalah jihad berperang melawan atau mengendalikan hawa nafsu! Apa bukan bodoh namanya jika anda mati-matian dan menghabiskan energi, bertengkar, kubu-kubuan untuk mendapatkan sesuatu yang kecil dengan melupakan yang besar?"

Ilustrasi ini menjadi ciri khas Jamaah Maiyah yang secara historis tidak bisa dilepaskan dari proses panjang pengembangan “bakat” dan tradisi berpikir yang dilengkapi dengan pengalaman “membaca kasunyatan” yang sangat luas dimensi dan spektumnya, yang kemudian memunculkan semacam charismatic authority yang tidak mudah, bahkan mungkin tidak bisa distrukturkan sebagaimana Banser dan entitas kelompok lain yang sudah ada sebelumnya. Sebagaimana kutipan yang mereka promosikan khusus kaitannya dengan momentum menjelang tahun pemilu 2019 dalam kolom Tajuk mereka, berikut ini:

Kolom Tajuk yang secara rutin menyajikan pesan-pesan singkat yang disarikand dari maiyahan rutin dan Ngaji Bareng (Source: caknun.com, 2018)

Namun yang jelas, youth movement senantiasa diwarnai oleh paling tidak dua aspek penarik, yaitu adrenalin (yang ditawarkan oleh Banser), dan dialektika (yang ditawarkan oleh Jamaah Maiyah), sehingga keduanya sama-sama tetap memiliki ruang untuk terus tumbuh dan berkembang. Saat ini, pengambangan dua kutub source of power yang berbeda ini, yang satu mengandalkan kelengkapan tradisi “pengembangan struktur”, dan yang lain mengandalkan kelengkapan tradisi “pengembangan ruang berpikir” adalah modal besar bangsa Indonesia untuk mengamankan masa depannya.

Facebook

Facebook
Google+

Google+
http://securethnography.com/2018/09/17/week-ten-different-interpretation-different-source-of-power-different-securitization-strategy">

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*